Kamis, 20 Mei 2010

Mengatasi Rasa Takut Gagal Dalam Menulis


Artikel ini menjadi juara di seleksi FLP ranting Husnul Khotimah
Langit senja mulai temaram
siang berakhir digantikan malam
dengan segala hiasannya
di angkasa
menerangi bumi
Keping kenangan di masa lalu
dari sebuah kegagalan berakhir kekecewaan
bukanlah benih putus asa
di esok dan lusa
bersama mentari baru
Rembulan berkawan bintang
hapuskan keraguan
dari sebuah asa harapan
Bergema do’a
jalan terbuka
tergapai segala cita
Puisi berjudul Raih Cita Bersama Mentari diatas hanyalah satu diantara banyak puisi hasil karya PujanggA lainnya. Saya disini tidak akan banyak mengartikan makna puisi tersebut, karena saya yakin sobat dapat mengartikannya sendiri. Bahwa kenapa kita mesti ragu untuk menggapai cita yang kita inginkan? Berdo’alah dan berusahalah. Jangan takut karena bukan kesulitan untuk menggapainya yang besar, tapi bayang-bayang ketakutan kita untuk menggapainya yang besar. Tapi jika kita tidak mau mencoba meraihnya? Untuk apa bermimpi?
Mengerti, kan maksud saya? Kalau mengerti akan saya lanjutkan tapi jika sobat tidak mengerti akan tetap saya lanjutkan. Lanjutkan! Jadi ingat Pak Presiden, nih.
“Duh, saya pengen ikut lomba nulis cerpen nih, tapi gak bakat. Gimana dong?”. Bukan menyinggung siapa-siapa loch. Tapi saya pernah mendegar seseorang bicara begitu. Tidak usah jauh-jauh, bahkan mungkin anda sendiri juga pernah mengatakan hal semacam tadi. Okke… akan saya jelaskan, rasa takut gagal itu memang perlu tapi ada porsinya. Jangan sampai melewati limit tertentu sehingga anda tidak mau mencoba sama sekali.
Padahal student, kita ini hidup di jaman modern. Kita tinggal di Negara bebas untuk mengeluarkan pendapat. Kita bebas berekspresi apa saja asal tidak melenceng ke hal negative. Jadi sobat, jangan takut untuk unjuk gigi! Apalagi kalau tawaran itu menanti. Misalnya Forum Lingkar Pena atau FLP yang sekarang berada di lingkungan santri Husnul Khotimah. Sobat tinggal nulis cerpen atau puisi dan essay terus kirim deh.
Menulis cerpen dan essay tidak sesulit yang sobat bayangkan, kok. Apa saja yang sobat pikirin, tulis aja! Misalnya sepatu, jarum, sekolah dll. Terus coba rangkai satu demi satu. Contoh: Andi harus berangkat ke sekolah, jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Ia terlambat tapi sepatunya tak juga ketemu. Jelek juga biarin, yang penting sobat sudah mencoba daripada bersyukur dengan kelemahan kamu.
Saya gambarkan begini kalau sobat masih gak ‘ngeh apa itu maksudnya bersyukur dengan kelemahan..
Orang pertama terjatuh, lalu dia berkata “Lihat nih! Saya terjatuh…”
“Terus kenapa?” tanya orang kedua.
“Sakit tahu…”
Orang pertama inilah yang saya maksud. Dia mensyukuri kelemahannya dan ingin orang lain mengkasihani dirinya. Bahkan orang pertama tidak ingin mencoba untuk berdiri. Sorry, saya jadi ngambil kata-katanya Pak Mario Teguh nih.
Mulai mudeng kan? Tapi bagaimana dong kalau kita sudah mencobanya tapi gagal dan gagal lagi? Sobat inget gak, berapa kali Thomas Alfa Edison mengalami kegagalan ketika sebelum menemukan bola lampu? 9999 kali!! Dan ingat tidak apa yang orang hebat ini katakan mengenai hal itu? Dia bilang, saya bukanlah gagal 9999 kali, tapi justru saya telah berhasil menemukan 9999 kali hal baru. Kurang lebih kata-katanya begitu. Coba sobat sendiri artikan maksudnya.
Saya sering nonton acara Mario Teguh Golden Ways. Disitu Pak Mario menjelaskan bahwa orang yang berhasil lebih banyak merasakan kegagalan dibandingkan orang yang gagal. Ngerti, kan? Kalau ngerti bakal saya lanjutin nih tapi kalau belum, saya tunggu deh sampai ngerti.
Okke, terus nanti kalau udah masuk FLP mau ngapain dong? Jangan berpikir hanya untuk ikut nampang nama doang. Awalnya saya juga berpikir begitu, tapi sekarang saya sudah ‘melek’. Karena bukan begitu maksud dihadirkannya FLP di kalangan santri. Kamu bisa ikutan acara FLP buat bagi-bagi pengalaman dan tips dalam menulis dengan para member lainnya. Bukan hanya itu, kita kan jadi punya link buat mengirim cerita ke penerbit. Yang jelas, kalau diterima penerbit, royaltinya bisa lebih besar daripada ngirim ke majalah HK. Mau? Mau? Mau? Hanya di Tri.
So, kita tidak perlu takut buat ngirim karya kita ke FLP. Kalau karya kamu diterima, terus karena karya kamu itu keren then dipublikasikan. Misalnya dikirim ke majalah HK nih terus dimuat. Wah, kamu makin unjuk gigi dong. Terus royaltinya juga lumayan buat beli Bakso atau Bubur Ayam kalau kamu malas ngantri ngambil tiket makan. Hehehe J
Sebenarnya bukan masalah royalti, bermimpi tidak ada yang larang. Tapi yang penting adalah bagaimana tulisan kita dapat bermanfaat untuk orang lain. Ya toh?
Seiring dengan waktu, asal sering mengasah bakat, kamu tidak sadar kemampuanmu bertambah! Dan banyak orang menyukai tulisanmu. Percaya, deh! Tapi jangan bilang kamu tidak akan pernah bisa. Nanti jadinya kamu gak bakalan pernah bisa beneran. Ingat, Kamu adalah apa yang kamu yakini!.
Dan kamu mulai dapat menulis seperti air mengalir. Maksudnya adalah sekalipun sobat kehabisan inspirasi, kamu masih tetap bisa melanjutkan ceritnya dengan baik karena kamu sudah terbiasa dengan hal seperti tadi.
Bahkan di jaman yang sudah serba modern ini sudah tidak lagi susah untuk mendapat informasi buat tulisan kita. Kita tidak lagi harus ke Mesir untuk tahu keadaan disana agar cerita kita tidak nyeleweng dari keadaan aslinya. Kita tidak lagi perlu ke Amerika, Korea Selatan, dan lain lain. Kita tinggal klik di Google. Dan kita dapat referensi untuk tulisan kita.
Saya jadi ingat perkataan Ust. Rahmat Abdullah kepada Mba Helvy Tiana Rosa. Beliau mengatakan, “Teruslah berjuang dengan pena-pena itu!” bukankah dengan begitu selama ini kita sedang berjuang? Kita sedang berjuang menyampaikan syi’ar dakwah lewat tulisan. Jika Harry Potter saja bisa ‘menyihir’ masyarakat dunia dengan kisahnya yang berbau sihir, mengapa kita tak bisa turut mempengaruhi dunia lewat buku-buku kita?
Banyak hal yang bisa wujudkan dalam tulisan. Kita bisa mewujudkan seorang puteri cantik yang akhirnya menikah dengan seorang tukang kayu miskin. Atau sobat ingin mewujudkan cerita dengan latar peperangan seperti cerita karangan saya tentang seorang gadis 9 tahun yang berjuang mati-matian demi memenuhi janjinya pada seorang raja. Atau mungkin seorang ayah yang memenjarakan puteranya sendiri. Hal-hal yang aneh tadi dapat aku dan kau suka dancow wujudkan dalam tulisan.
Bukan hanya itu, menulis bisa menjadi pekerjaan yang selalu terbuka kesempatannya dengan penghasilan yang lumayan. Untuk siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Contohnya, kita dapat menulis di blog sehingga semua orang bisa membaca tulisan kita. Siapa saja, dimana saja dan kapan saja, kan? Atau sobat mungkin ingat film A Little of Tears. Film yang diadaptasi dari kisah nyata yang sudah bikin orang yang menontonnya bercucuran air mata. Aya, seorang gadis lumpuh yang lalu menulis diary dan semua orang menyukai tulisannya yang mengharu biru sehingga kita sadar arti kehidupan itu. Tulisan tangannya sudah mirip tulisan cakar bebek karena penyakit yang dideritanya, tapi tidak membuatnya menyerah untuk terus menulis puisi.
Rupanya sobat sudah membaca sampai sini. Sudah jauh dong. Jadi siapa tuch yang masih menolak untuk menjadi penulis dengan alasan gak bakat & koncokonconé??
Salam manis tuk s’mua o(^_^)o
30-07-2009

Reaksi:
Comments
1 Comments

1 komentar:

  1. wah iya artikel nya bisa menyemangati orang untuk selalu menulis

    BalasHapus

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...