Sabtu, 02 Oktober 2010

Soru Part 2



Mentari menyapa ramah. Sinarnya menyelinap dari balik kapas-kapas putih yang melayang di langit kota Tokyo. Yi Jae berada dalam sebuah bus yang akan membawanya ke rumah kos-kosannya. Ia menumpahkan pandangannya ke jejeran toko di sepanjang jalan yang sudah beberapa tahun ini dia rindukan. Bus melewati sebuah bangunan yang membuat Yi Jae tidak mengedipkan matanya satupun, bangunan I.A.S High School, sekolahnya semasa SMA. Andai saja waktu dapat berhenti, Yi Jae masih ingin melihat bangunan tersebut lebih lama lagi. Tapi bus tetap berjalan dan melewatinya dalam waktu beberapa detik saja.
Sekarang musim semi, dan bunga-bunga sakura bermekaran. Yi Jae bisa melihat pemandangan itu di dalam bus selagi menunggu bus tiba di tempatnya. Walau sebenarnya Yi Jae berharap agar bus itu melaju lebih lamban saja agar ia tidak segera bertemu dengan pria mata duitan bernama Zoh itu.
Tapi akhirnya ia tiba juga di rumah yang dimaksud. Sebuah rumah dua tingkat yang sederhana seperti rumah-rumah lainnya yang berada disana. Hanya saja, ada plang dari kayu yang cukup besar yang menempel di tembok rumah itu bertuliskan “Ramen Shibuya”. Yi Jae melangkah menuju pintu rumah itu sambil menyeret kopernya. Tunggu. Dia ingat kalau si pemilik adalah orang muslim seperti dirinya.
“Assalamu’alaikum…” Jadilah Yi Jae salam dan sesekali menekan bel. Tidak lama kemudian, seorang anak perempuan berusia 10 tahun membuka pintu rumah tersebut.
“Kakak adalah ryugakusei (mahasiswa asing) itu ya?” tanya anak perempuan tersebut.
“Iya.” Yi Jae tersenyum.
“Kakak silakan masuk, aku akan memanggil ibuku dulu,” ujarnya lalu berjalan masuk diikuti Yi Jae. Anak perempuan itu memanggil ibunya sementara Yi Jae duduk di ruang tamu. Matanya berkeliling melihat-lihat hiasan-hiasan di tembok yang bertuliskan Asma Allah.
“Heo Yi Jae?” tanya seorang wanita yang usianya mungkin sekitar 40 tahun. Masih sangat muda untuk dikatakan dia telah melahirkan Zoh. Wanita itu memakai jilbab walau tidak sepanjang yang Yi Jae kenakan.
“Iya.”
“Selamat datang di rumahku yang sederhana,” ujarnya. Yi Jae hanya tersenyum malu-malu. “Kami sedang sarapan pagi sekarang, apa kau sudah sarapan?”
“Belum,” ujar Yi Jae menggeleng.
“Sarapan bersama kami, yuk. Anggap saja ini rumahmu sendiri,” katanya bangkit berdiri menuju ruang makan. Yi Jae mengikuti wanita itu di belakangnya. Di ruang makan sudah ada seorang pria berusia 44 tahun, anak perempuan yang tadi, dan seorang pemuda yang tidak lain adalah Zoh. Yi Jae tetap berjalan tanpa mempedulikan pemuda itu.
“Silakan duduk disini,” ujar bibi Akane menarikkan satu kursi untuk Yi Jae. Dengan malu-malu, Yi Jae duduk di kursi yang disediakan Bibi Akane untuknya.
“Mulai hari ini kau adalah keluarga kami juga, Yi Jae,” ujar Bibi Akane. “Kau bisa memanggilku Bibi Akane, suamiku Paman Tatsuoki, anakku Mao, dan anakku yang besar ini Zoh,” ujar Bibi Akane memperkenalkan anggota keluarganya satu demi satu. Yi Jae mencoba tersenyum pada Zoh, tapi senyum itu langsung menipis ketika melihat orang itu malah menatapnya dengan sorotan mata sinis.
“Kau sudah berhutang padaku, menumpang di rumahku pula,” ujar Zoh.
“Aku sudah minta maaf.”
“Apa aku memaafkanmu?”
“Apa di dalam agama tidak disuruh untuk saling memaafkan?!”
“Apa di dalam agama disuruh untuk berhutang?!”
Mata keduanya beradu ketajaman. Bibi Akane, Paman Tatsuoki, dan Mao hanya melihat mereka berdua dengan heran. Keduanya pun kembali terdiam tapi tetap saling menatap dengan sinis.
“Aku kenyang,” ujar Zoh bangkit berdiri dan melangkah pergi menuju kamarnya. Bibi Akane tidak mengerti, sepertinya Heo Yi Jae dan putranya itu sudah saling mengenal sebelumnya. Tapi pasti bukan perkenalan yang baik.
&&&
Bibi Akane membuka pintu kamar yang nantinya akan Yi Jae tinggali selama satu semester. Kamar orang Jepang biasa. Ada sebuah ranjang yang menempel di dinding, meja belajar yang menghadap jendela yang menuju ke barat sehingga Yi Jae bisa melihat matahari terbenam, dan sebuah lemari pakaian.
“Ini adalah kamarmu selama kau tinggal disini,” kata Bibi Akane. Mata Yi Jae mengelilingi isi kamar seraya menyeret kopernya masuk. Dia pun duduk di tepi ranjangnya begitu pula Bibi Akane.
“Terimakasih,” kata Yi Jae tersenyum. Tapi beberapa detik kemudian senyuman itu langsung hilang.
“Ada masalah?”
“Tasku tertukar dengan seorang pemuda di bandara. Padahal di dalamnya ada dompet dan…” Yi Jae terdiam menyebut barang satunya lagi. Dia bahkan hampir tidak percaya membawa benda tersebut. Boneka teddy bear memakai pakaian pengantin pria. Entah darimana muncul perasaan bahwa mungkin jika dia membawa boneka itu, ia bisa lebih mudah bertemu dengan Seiji Amano.
“Dan apa?” tanya Bibi Akane.
“Bukan apa-apa.” Yi Jae menggeleng.
“Yi Jae, sepertinya aku pernah melihatmu sebelumnya.” Bibi Akane memandang wajah Yi Jae dalam-dalam. Yi Jae heran.
“Benarkah?”
“Iya.” Sejenak Bibi Akane diam. Dia tengah berpikir hingga akhirnya dia berkata, “APA KAU HEO YI JAE PENYANYI TERKENAL ITU??!!” Bibi Akane mendadak bangkit berdiri. Yi Jae sampai tersentak kaget. Dia pikir Bibi Akane tidak mengenal Heo Yi Jae. Bibi Akane pun berlari keluar dari kamar dan beberapa detik kemudian, wanita itu telah muncul lagi sambil membawa sebuah CD Album Heo Yi Jae yang covernya adalah foto Yi Jae. Bibi Akane melihat Yi Jae dan melihat cover di album tersebut secara bergantian. Benar-benar mirip. Hanya jilbab yang membuat perbedaan.
“Aku pikir bibi tidak tahu tentang Heo Yi Jae,” ujar Yi Jae.
“Benar-benar tidak bisa dipercaya. Siapa sih yang tidak tahu Heo Yi Jae ketika kau belum masuk Islam? Tiket konsermu pasti langsung habis terjual dalam satu jam di Jepang.”
“Itu sangat memalukan, Bibi. Kumohon, jangan membahasnya lagi.”
“Baiklah. Tapi kau harus tahu, Zoh adalah penggemar beratmu dulu.”
“Apa?”
“Iya, bibi lihat fotomu di bagasi motornya malam itu…” Bibi Akane terdiam mengingat kejadian di suatu malam ketika dia liburan di London, mobilnya menabrak seorang pengendara motor hingga wajah pengendara motor itu hancur karena bergesekan dengan aspal. Sementara Yi Jae sendiri terdiam sambil nyengir. Kalau Zoh tahu dia adalah Heo Yi Jae penyanyi terkenal itu, Zoh pasti akan memaafkannya tentang hutangnya tersebut.
“Baiklah, beri tahu saja pada Zoh!” ujar Yi Jae semangat.
“Tapi dia itu…”
“Kenapa, bi?”
Dengan setengah berlari, Bibi Akane menutup pintu kamar setelah memastikan tidak ada Zoh disana. Dia pun segera menghampiri Yi Jae lagi.
“Dia itu lupa ingatan,” bisik Bibi Akane membuat Yi Jae terperangah kaget. Lu-pa I-nga-tan?
“Apa?” pekik Yi Jae. Bibi Akane menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya. Isyarat agar Yi Jae bicara tidak terlalu keras.
“Kau tidak mengiranya, bukan?” Bibi Akane terdiam sejenak. Otaknya kembali memutar ulang kejadian itu. Yi Jae hanya menatap mata wanita itu ikut simpati. Bola mata Bibi Akane seakan berpendar penuh penyesalan. Bibi Akane pun menghembuskan nafas panjang. Dia lalu menolehkan wajahnya ke arah Yi Jae. “Apa kau siap merahasiakan ini dari siapapun?”
“Insya Allah.”
“Waktu itu aku dan suamiku sedang liburan ke London. Malam itu sangat mencekam, dan suamiku tidak melihat pengendara motor yang terjatuh. Kami pun menabraknya dan kami sangat ketakutan. Akhirnya, suamiku membawa pemuda yang berlumuran darah itu ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit dengan mengaku kalau dia adalah anak kami. Pertama kali pemuda itu bangun, kami sangat ketakutan. Hingga akhirnya dia bertanya namanya sendiri dengan bahasa Jepang. Sebuah keberuntungan, ternyata pemuda itu orang Jepang yang lupa ingatan.”
“Pemuda itu adalah Zoh?” tanya Yi Jae dengan nada tercekat. Bibi Akane mengangguk berat.
“Makanya, dia sudah tidak lagi mengenal Heo Yi Jae. Percuma saja memberi tahu padanya tentang dirimu.”
“Tidak, bi. Mungkin aku bisa membantu mengembalikan ingatannya.”
“Jangan! Aku takut dia melaporkan kami ke polisi.”
“Tapi cepat atau lambat, ingatan Zoh pasti akan kembali juga, bi. Bibi tidak bisa selamanya merahasiakan masalah ini.”
“Kau benar, tapi…”
“Bibi, Allah itu bersama prasangka hambanya. Jika Bibi Akane berpikiran buruk jika ingatan Zoh kembali, maka bisa jadi itulah yang akan terjadi. Begitu pula sebaliknya.”
“Yi Jae, kumohon tolonglah aku dan keluargaku. Jangan sampai Zoh melaporkan kami kepada polisi karena telah merahasiakan identitas aslinya.”
“Iya, tentu saja.” Yi Jae tersenyum. Pertanyaannya terjawab sudah, kenapa Bibi Akane terlihat terlalu muda untuk melahirkan Zoh. Jawabannya, karena Bibi Akane memang bukan ibunya.
&&&
Cahaya matahari masuk ke dalam kamar Takumi melewati jendela kaca yang hordengnya terbuka lebar. Zoh berebah di atas kasur sahabatnya itu. Dia baru saja pulang kuliah dan memilih untuk tidak langsung pulang ke rumahnya karena malas. Alasan anak muda yang standar.
Zoh pun bangkit dan duduk di tepi kasur. “Di rumahku ada seorang gadis yang sangat menyebalkan. Aku jadi malas pulang.”
“Kau tidak mengantar ramen?” tanya Nobu yang sedang membuka buku pelajaran.
“Ibuku punya suruhan selain aku. Dia mengerti kalau aku juga sibuk kuliah,” jelas Zoh. Nobu manggut-manggut mengerti. Nobu pun kembali membaca buku pelajaran setelah membenarkan kacamatanya. Benar-benar mahasiswa yang rajin. Berbeda dengan Zoh yang walaupun mudah menyerap berbagai pelajaran, di luar kampus dia tidak pernah belajar sama sekali.
“By the way, sewaktu aku mengantar Ayahku ke bandara, tasku tertukar dengan seseorang,” ujar Takumi lalu mengambil tas punggung berwarna hitam bermerek Nike. Takumi pun mengeluarkan sebuah boneka dari tas tersebut. Boneka teddy bear berpakaian pengantin pria.
“Pemiliknya pasti suka boneka sampai-sampai memasukkannya ke dalam tas ini,” ujar Takumi yang lalu hendak memasukkan boneka itu kembali ke dalam tas. Tapi malah tidak sengaja menjatuhkannya. Takumi pun memungutnya kembali. “Tanganku licin.”
Deg! Zoh membelalakkan matanya. Tiba-tiba sebuah bayangan melintas begitu saja dalam kepalanya. Membuat kepalanya terasa pusing sekali. Bayangan itu tentang seorang pemuda menjatuhkan boneka teddy bear dan berkata pada kekasihnya, “Tanganku licin”.
“Ada apa, Zoh?” tanya Nobu menyadari temannya itu memegangi kepalanya dan alisnya mengerut. Zoh segera menyadari situasi. Nafasnya tersengal-sengal seakan-akan dia telah melewatkan suatu saat yang berat.
“Kalian tahu aku pernah lupa ingatan, kan?” tanya Zoh.
“Apa kau mengingat sesuatu?” tanya Nobu.
“Entahlah. Boneka itu seperti mengingatkanku pada seseorang,” ujar Zoh. Takumi memandangi boneka teddy bear yang kini dia pegang. Sementara Nobu memandang wajah Zoh dalam-dalam di balik kacamata tebalnya.
“Mungkin kau mengenal pemiliknya. Di dompetnya ada KTP orang tersebut. Sebentar,” kata Takumi lalu merogoh ke dalam isi tas lagi. Ia mengeluarkan sebuah dompet berwarna biru dan membukanya. Ada banyak uang disana. Pemiliknya pasti orang kaya. Tapi bukan itu yang diincar Takumi, dia hanya mengeluarkan KTP orang tersebut dan menunjukkannya pada Zoh.
Zoh terperangah tidak percaya melihat foto di KTP itu, “D…dia?”
“Ada apa?” tanya Takumi.
“Dia adalah gadis menyebalkan yang tadi aku bilang tinggal di rumahku,” kata Zoh.
“Bagaimana bisa?” tanya Takumi.
“Aku tidak tahu.”
“Kebetulan sekali,” kata Nobu. Dia lalu bangkit berdiri sambil membawa buku-buku dan menggendong tasnya di punggung. “Aku baru ingat ada urusan. Aku pulang duluan ya!” ujar Nobu lalu melangkah keluar dari kamar tersebut.
&&&
Zoh sedang naik motor sore itu hendak pulang. Sepanjang perjalanan, ia tidak sadar ada seseorang yang mengikutinya dari belakang hingga akhirnya dia belok lewat gang sempit karena jalan itu adalah jalan pintas agar cepat tiba di rumah. Karena jalan gang itu sepi, Zoh jadi sadar dia sedang diikuti oleh seorang pengendara motor berpakaian hitam. Entah siapa.
Zoh tersenyum licik. Jangan panggil dia Zoh kalau dia tidak bisa mengecoh pengendara itu. Dia pun belok dan ketika pengendara motor itu ikut belok, Zoh sudah menghilang.
&&&
Motor Zoh berhenti di depan rumahnya yang sebagian adalah rumah makan itu. Sore ini rumah makan sedang ramai, dan Yi Jae ikut bantu-bantu mengantar makanan ke setiap meja.
“Yi Jae, antarkan ini ke meja 5!” teriak Bibi Akane yang sibuk di dapur, memasak. Zoh masuk ke dalam rumahnya setelah mengucapkan salam. Dia lalu menghampiri Yi Jae yang masih sibuk dengan urusannya itu.
“Kau itu mahasiswi atau pembantu di rumahku?” tanya Zoh.
“Ini pesanannya, selamat makan,” kata Yi Jae pada kedua pria di meja lima. Dia lalu kembali berjalan menuju dapur untuk mengantar makanan selanjutnya. Zoh mengikutinya.
“Kau dengar tidak? Kau itu mahasiswi atau pembantu di rumahku?!” bentak Zoh sehingga seluruh orang di tempat itu bisa mendengar ucapan Zoh. Yi Jae menghela nafas. Dia memberhentikan langkahnya.
“Yang pasti aku bukan orang yang suka numpang gratis atau berhutang,” ujar Yi Jae. “Karena kemarin kau membuatku tidak bisa mendapatkan tasku, aku terpaksa harus bekerja disini agar bisa tinggal tanpa disebut menumpang dan agar aku bisa membayar hutang kepadamu. Apa kau puas?” ujar Yi Jae sinis. Zoh pun berjalan keluar rumahnya dan dalam hitungan detik dia sudah muncul lagi di depan Yi Jae dengan membawa sebuah tas punggung berwarna hitam yang tidak lain adalah tas milik Yi Jae. Yi Jae terperangah. Dia langsung menyambar tasnya dan memeluk tas itu erat.
“Terimakasih, tas ini sangat berharga bagiku.”
“Tas itu atau sesuatu di dalamnya?” tanya Zoh.
“Uang di dalam dompetnya!”
“Bukan boneka teddy bearnya?” tanya Zoh lagi.
“Tentu saja! Boneka teddy bear itu tidak berharga. Astaga, aku bahkan tidak percaya aku membawanya kemari.”
“Kalau begitu apa boleh boneka teddy bear itu untukku?”
“Kau kan laki-laki, kenapa ingin boneka teddy bear ini?”
“Karena kau bilang boneka itu tidak berharga. Jadi bukankah aku bisa memilikinya dengan gratis?”
Yi Jae sebenarnya keberatan. Tapi dia tidak boleh lama-lama bermaksiat dengan menyimpan boneka itu dan mengingat kekasih di masa jahiliyahnya. Bismillah…, semoga seiring dengan melepas boneka ini, Yi Jae bisa melupakan Seiji Amano dan memulai cintanya semata untuk Allah.
“Baiklah, aku tidak menginginkannya lagi!” Yi Jae pun mengeluarkan boneka tersebut dari dalam tasnya dan memberikannya pada Zoh. Zoh bahkan tidak tersenyum. Bukankah seharusnya dia senang mendapatkan boneka gratis?
Dua orang pria bertubuh besar masuk, Yi Jae langsung menghampirinya untuk menyambutnya seraya menunjukkan meja yang kosong.
“Kami tidak lapar,” kata salah seorang dari pria itu.
“Kami polisi!” ujar pria yang lain menunjukkan lencana kepolisiannya. Perkataan itu membuat semua mata disana mengarah kepada mereka. “Kami mencari seorang pemuda bernama Ryuji Sojiro!”
Yi Jae tersentak kaget. Dia menoleh ke arah Zoh yang berdiri beberapa meter di belakangnya. Ryuji Sojiro adalah nama lengkap Zoh. Tapi untuk apa kedua polisi itu mencarinya? Apa Zoh telah melakukan suatu kriminal?
“Saya Ryuji Sojiro, ada apa?” tanya Zoh heran mendekati kedua pria itu.
“Anda harus ikut kami!” kata mereka.
Terkait:

Reaksi:
Comments
2 Comments

2 komentar:

  1. wah kalau ada gambar pasti lebih seru lagi.. ceritanya sederhana, berkesan, dan dirangkum sedemikian apik dalam rangkaian kata dan kalimat sehingga membuat cerita lengkap menjadi satu kesatuan yg utuh! sukses sll buatmudan tulisannya..

    BalasHapus
  2. udah ada lanjutannya..!
    baguss...seperti cerita2 sebelumnya..aku sama sekali ga kepikiran bikin cerita yg bersambung2 kayak gini

    ada beberapa hal yg aku kritik nih (maaf kalau kesannya terlalu menggurui) :
    Yi Jae bisa melihat pemandangan itu di dalam bus selagi menunggu bus tiba di tempatnya.
    kata 'di' kurang tepat disini, lebih bagus kalau pake kata 'dari'
    selagi udah bagus, tp menurutku sih lebih bagus kalau diganti dengan 'sembari'.
    'tiba di tempatnya' mungkin lebih baik bila diganti dengan 'tiba di tempat yang ia tuju'

    trus ada kata hordeng..itu maksudnya gorden ya?
    trus ada kata "..., bi" bi itu kan sapaan yg lebih singkat untuk Bibi, seharusnya ditulis pake huruf kapital

    aduhh..kayaknya aku kebanyakan kritik ya..hhe

    oya, aku menduga bahwa zoh itu adalah seiji..benar ga ya?
    tunggu part selanjutnya aja deh..
    sukses buat tulisan2 yg lain...kamu bisa jadi novelis nih..

    BalasHapus

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...