Kamis, 14 Oktober 2010

Soru Part 4



Mobil sedan berwarna hitam itu berhenti di depan sebuah bangunan rumah yang mewah. Zoh melihat keluar jendela, ada rasa tidak percaya dia akan tinggal di rumah tersebut selama beberapa minggu. Ya, walaupun sebenarnya dia akan terus diawasi oleh para polisi itu melalui kamera CCTV yang terpasang di setiap sudut rumah dan tinggal bersama Kyousuke.
Zoh bersama Kimura dan Kyousuke memasuki rumah tersebut. Rumah itu bergaya reinassance dengan gorden besar menutupi jendela yang besar.
“Rumah yang besar,” ujar Zoh.
“Jika ingatanmu sudah pulih, rumah ini tidak ada apa-apanya dibandingkan rumahmu sendiri,” ujar Kyousuke. “Juga rumah keluargamu di Tokyo.”
“Kau yakin sekali kalau aku adalah Seiji Amano.”
“Sangat,” ujar Kyousuke.
“Di sini tidak ada telepon,” kata Kimura.
“Lalu bagaimana aku bisa menghubungi ibuku?” tanya Zoh.
“Kau tidak boleh berhubungan dengan siapapun kecuali kami,” ujar Kimura lalu menyerahkan sebuah ponsel. “Ponsel ini sudah dimodifikasi sehingga kau tidak bisa menelepon siapapun kecuali markas kepolisian.”
Zoh menatap sebal ke arah Kimura. Sejak awal ia memang tidak suka dengan pria berusia 30 tahun tersebut. “Sampai kapan kalian mengurungku begini?”
“Entahlah, yang pasti sampai urusan dengan yakuza selesai.”
“Kenapa kalian tidak membiarkanku bicara kepada yakuza saja? Apa polisi Jepang akan mudah melawan organisasi gelap tersebut?”
“Apa yang kau ingin bicarakan kepada mereka? Kau tidak ingat apapun!” seru Kimura lagi. Pria itupun melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut. Zoh mendesah kesal.
“Seiji, kemarin aku bertemu dengan Yi Jae. Aku minta maaf karena telah mengatakan kau telah melupakannya dan menyuruhnya agar tidak mencarimu. Itu kulakukan adalah demi kebaikanmu sendiri. Sepertinya dia juga sudah tidak peduli denganmu sejak kejadian beberapa tahun yang lalu,” ujar Kyousuke.
Zoh cuek. Dia sudah tahu kalau Yi Jae memang tidak peduli lagi dengan Seiji dari boneka teddy bear yang dibuangnya begitu saja. “Masa bodoh.”
“Dia adalah wanita yang sangat kau cintai.”
“Itu dulu, bahkan jika aku benar Seiji.”
“Baguslah, aku ikut senang. Kalau begitu tidak ada satupun pihak yang merasa dirugikan.”
&&&
Siang itu Yi Jae menggantikan Zoh mengantarkan mie ramen ke rumah-rumah pembeli. Masih teringat di benaknya ketika Bibi Akane melarangnya bekerja karena kedatangan Yi Jae untuk belajar. Tapi Yi Jae yang kadang keras kepala itu tetap ingin membantu dan dia janji ini adalah yang terakhir kali. Lagipula, diantara rumah-rumah yang dia antar ramennya ada rumah tempat temannya yang ikut pertukaran pelajar. Rumah Rifki.
“Assalamu’alaikum,” ujar Yi Jae sembari mengetuk pintu. Tidak lama kemudian, seorang wanita yang tidak lain adalah ibunda Rifki membuka pintu. Yi Jae kaget, dia tidak mengenal wanita berjilbab tersebut.
“Walaikumsalam. Heo Yi Jae?” tanyanya.
“Iya,” ujar Yi Jae.
“Mau mencari Rifki, ya?” tanya ibunya Rifki yang memang terkenal suka travelling tersebut menggunakan bahasa Inggris.
“Iya, Rifki tadi memesan mie ramen ini.”
Tidak lama kemudian, Rifki muncul di ambang pintu menghampiri ramen pesanannya. Tapi dia cukup terkejut melihat orang yang mengantar mie ramen itu adalah Yi Jae. Mantan seorang penyanyi terkenal yang kini memakai baju lusuh berbau asap.
“Yi Jae? Kau?”
“Rifki, ini pesananmu,” kata Yi Jae memberikan sekotak mie ramen pada Rifki.
“Yi Jae? Koq kamu mengantar mie ramen ini sih?”
“Soalnya aku tinggal di rumah orang yang bisnis masakan ini. Aku hanya ingin membantu Bibi Akane karena anak laki-lakinya yang biasa menjadi pengantar mie ramen dibawa oleh polisi kemarin. Padahal aku sangat yakin dia tidak bersalah.”
Rifki heran. Dia juga polisi. Tapi kenapa dia tidak tahu ada seorang pria yang dibawa oleh kepolisian tanpa alasan. Apalagi orang itu adalah orang yang tinggal bersama Yi Jae dalam satu rumah. “Aneh,” gumam Rifki.
“Ada apa?” tanya Yi Jae. Rifki tersentak.
“Tidak. Oh ya, kenalkan. Ini ibuku.” Rifki memperkenalkan ibunya pada Yi Jae. Yi Jae terperangah, ternyata wanita ini adalah ibunya Rifki. Dari wajahnya cukup mirip sih. “Dia ke Jepang dua hari yang lalu. Katanya dia ingin melihat bunga sakura di Jepang.”
“Oh…” Yi Jae manggut-manggut. Dia pun salim pada ibunya Rifki.
“Ma, ini Yi Jae. Mama kalau lapar bisa pesan pada rumah makan tempat dia tinggal sekarang. Soalnya Atir dengar Shibuya Ramen itu dimiliki oleh keluarga muslim, jadi sudah pasti halal.”
“Oh, bagus sekali. Mama akan kesana kapan-kapan,” ujar ibunya Rifki tersenyum.
Yi Jae melirik jamnya. Dia tidak boleh terlambat mengantarkan ramen selanjutnya ke rumah pembeli yang lain. “Aku pergi dulu, ya. Aku harus mengantarkan ramen-ramen itu lagi. Assalamu’alaikum.”
“Walaikum’salam,” sahut Rifki dan ibunya bersamaan. Yi Jae melangkah pergi menuju motor vespa milik Bibi Akane yang digunakannya untuk mengantarkan pesanan. Tidak lama kemudian, motor vespa itupun sudah melaju lagi di jalan raya.
Rifki langsung berjalan masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai dua, sementara ibunya Rifki menutup pintu depan. Di dalam kamar, Rifki langsung menelepon FBI di Jepang untuk menyelidiki seseorang bernama Zoh yang kini dibawa kepolisian.
“Apa?!” Rifki kaget mendengar orang di seberang sana berkata kalau Zoh dicurigai adalah Seiji Amano. FBI muda yang dulu adalah kekasih Yi Jae. Jika Zoh benar Seiji, maka Yi Jae tinggal dengan Seiji tanpa Yi Jae sadari. Orang di seberang sana yang merupakan FBI Jepang itu pun menjelaskan panjang lebar kenapa Zoh bisa dicurigai sebagai Seiji. Rifki kaget. Setelah beberapa tahun, dia baru menyadari kenapa Seiji membuat Yi Jae benci padanya. Jadi karena penyakit mematikan itu…
“Dimana dia sekarang?” tanya Rifki.
“Dia tinggal dalam sebuah rumah dengan pengawasan polisi. Kau datanglah dulu ke markas kepolisian, lalu kami akan mengantarmu.”
“Baik.” Rifki menaruh kotak ramen di mejanya, memakai jaket, dan langsung melangkah pergi menuju markas kepolisian.
&&&
“Hwuaaa…” desis Yi Jae. Tanpa sadar mulutnya menganga cukup lama melihat rumah di hadapannya. Sebuah rumah bergaya khas Jepang dan halamannya luaaaasss sekali. Ada sungai buatan di taman rumah tersebut, tumbuhan-tumbuhan berbentuk binatang, dan gerbang yang besar. Pasti pemiliknya adalah orang kaya raya. Karena rumahnya di Korea saja tidak sebesar dan sebagus ini.
Yi Jae pun menekan bel di gerbang, dan tidak lama kemudian dua orang pria muncul. Mereka mungkin satpam di rumah itu. Dalam hati Yi Jae berdecak kagum, satpamnya saja harus dua. Atau mungkin ada beberapa satpam lain menjaga di sudut lain rumah ini. Pemiliknya pasti orang kaya. Tidak, tapi super kaya. Soalnya rumah itu benar-benar luas seperti istana.
“Tadi pemilik rumah ini menelepon agar memesan ramen ini. Boleh aku masuk untuk mengantarkannya?”
Kedua pria itu berbisik-bisik. Setelah itu, mereka pun membuka gerbang rumah tersebut untuk membiarkan Yi Jae masuk. Gadis itu membawa kotak mie ramen untuk diantarkan kepada si pemesan.
“Nona, biar saya antar,” ujar salah satu dari pria tadi. Yi Jae mengangguk-angguk kecil tanpa sedikitpun memalingkan wajahnya dari bangunan rumah itu. “Nona, silakan ikuti saya.”
Yi Jae pun mengikuti pria tersebut masuk ke dalam rumah tersebut. Rumah bergaya khas Jepang dengan bangunan terbuat dari kayu. Tapi arsitekturnya seperti istana kaisar saja. Di dalam ada pria-pria yang berdiri di berbagai sudut seperti patung memakai baju berwarna hitam. Mereka seperti pengawal istana yang dengan suka rela menjaga rajanya 24 jam.
Rajanya… apakah yang menjadi raja di rumah ini adalah orang yang nanti akan Yi Jae temui? Orangnya seperti apa ya? Yi Jae mulai penasaran. Bersama pria di depannya dia menyusuri rumah. Hingga akhirnya tibalah dia di depan sebuah pintu bergaya Jepang tradisional yang digeser-geser tersebut.
“Bos, mie ramen pesanan Anda sudah datang,” ujar pria tersebut.
“Suruh dia masuk!” kata suara di dalam.
“Baik, bos!” Pria itupun menggeser pintu di dalamnya sambil membungkuk seraya mempersilahkan Yi Jae masuk. Yi Jae pun masuk. Di depannya seorang pria kurus dengan rambut lurus yang dikuncir kuda sedang duduk. Pria berusia 55 tahun itu memakai yukata dan sedang melukis sesuatu.
“Duduklah,” katanya. Yi Jae pun duduk dan pria itu menatap Yi Jae heran. Dia memiringkan kepalanya tidak mengerti.
“Ini ramen pesanan Anda, tuan.”
“Bukankah pengantar mie ramen ini seharusnya adalah seorang laki-laki?” tanya pria dengan alis mencuat tersebut. Yi Jae langsung mengerti maksud ucapan orang itu. Zoh.
“Oh, dia dibawa polisi. Katanya untuk diselidiki, padahal aku yakin dia tidak salah apapun,” kata Yi Jae.
“Dibawa polisi?”
“Baru kemarin polisi datang dan berkata akan membawanya. Aku juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba dia dibawa polisi. Jadi sekarang, mie ramen ini aku yang mengantarnya.”
“Apa kau Heo Yi Jae?” tanya pria tersebut mengamati wajah Yi Jae. Yi Jae mengangguk walau sebenarnya dia tidak menyukai mengakui hal itu. Rasanya dia ingin membuang masa lalu itu jauh-jauh.
“Iya,” kata Yi Jae. Pria itu tersenyum dan beberapa detik kemudian tertawa terbahak-bahak. “Benar-benar sebuah kebetulan! Hahaha!”
“Ada apa?” tanya Yi Jae tidak mengerti.
Pria itu menelepon seseorang lewat telepon yang berada di dekatnya. “Sho, Tomohiro! Kalian ke ruanganku!” katanya lalu menutup telepon tersebut. Tidak lama kemudian, dua orang pria berpakaian hitam-hitam masuk.
“Ada apa, bos?” tanya mereka.
“Tangkap gadis ini! Bawa dia ke gudang dan kurung dia di sana!” kata pria tersebut.
“Baik bos!” Tanpa pikir panjang lagi, mereka pun menarik tangan Yi Jae. Yi Jae membelalakkan matanya kaget bukan main. Ada apa ini? Jika pria itu tahu kalau dia adalah Yi Jae, bukankah seharusnya minta tanda tangan atau gimana kek? Ini koq malah ditangkap? Udah mana dipegang sama yang bukan mahram lagi. Yi Jae mencoba berontak, tapi kedua pria disampingnya itu terlalu kuat untuk dilawannya seorang diri.
“LEPASKAN AKU! SIAPA KAU?!” tanya Yi Jae melotot ke arah pria di depannya. Pria itu tersenyum sambil menghisap cerutunya. Dan menghembuskan asapnya lembut ke muka Yi Jae.
“Siapa aku? Aku adalah Takeshi Amano. Paman dari Seiji Amano.”
“Paman Seiji?” tanya Yi Jae dengan nada tercekat.
“Seiji adalah penerus yakuza, tapi dia menghilang dan bergabung dengan FBI.”
“Yakuza…” Yi Jae terperangah kaget. Dia tahu tentang yakuza di film-film. Sebuah organisasi gelap di Jepang yang berhasil membuat polisi kewalahan dengan segala tindak kriminalnya. Pantas saja rumahnya mewah sekali. Dan pantas saja Seiji memiliki banyak uang walaupun dia tidak pernah menunjukkannya.
“Iya, dan kau adalah mantan kekasihnya, bukan? Aku bisa memanfaatkanmu agar Seiji datang kesini. Hahaha!!!”
“Kau gila! Sudah bertahun-tahun kita berdua tidak lagi saling komunikasi. Kita tidak lagi saling mencintai. Seharusnya kau menangkap tunangannya saja, bukan aku!”
“Tunangan? Sejak kapan Seiji punya tunangan?”
“Kau tidak tahu?”
“Aku tahu banyak tentang Seiji dibandingkan dirimu.”
“Tapi wanita Inggris yang dia bilang adalah tunangannya itu…”
“Orang-orangku sudah menyelidikinya, kau telah ditipu waktu itu!”
“Ditipu?”
“Sampai sekarang keponakanku masih mencintaimu. Dia menipumu karena dia mengidap penyakit mematikan yang bersarang di otaknya. Maka dari itu, dia ingin kau benci padanya. Kau tidak tahu, kan?”
Yi Jae membisu. Berontaknya surut.
“Bawa dia!” kata Takeshi lagi seraya menghisap cerutunya. Kedua pria itupun menyeret Yi Jae keluar untuk dibawa ke gudang dan dikurung disana.
&&&
Rifki masuk ke dalam rumah mewah itu bersama Kyousuke. Didapatinya Zoh yang sedang menonton televisi. Rifki melemparkan pandangan heran ke arah Zoh. Zoh hanya cuek sambil menggunta-ganti channel dengan remot di tangannya.
“Dia adalah temanmu juga di FBI. Rifki Mahatir,” kata Kyousuke.
“Oh.”
“Benar-benar tidak bisa dipercaya,” ujar Rifki terus melihat Zoh.
“Aku tahu ini pasti kesalahpahaman,” ujar Zoh.
“Aku juga berharap kau bukan Seiji. Jika Seiji lupa ingatan, seharusnya dari gaya bicaranya tetap keren seperti orang jenius. Seharusnya kau berharap kau adalah Seiji, karena kau adalah calon ketua FBI Jepang yang paling kuat di masa mendatang,” kata Rifki.
“Berhentilah bicara tentang Seiji. Aku muak.” Zoh lalu mematikan televisi. “Polisi sekarang melihatku seperti berkunjung ke kebun binatang langka, apa kau tahu?”
“Iya, aku bahkan melihatmu begitu.”
“Aku berharap ingatanku segera pulih dan aku tahu siapa diriku yang sebenarnya. Menurutku, cara yang terbaik adalah bertanya dengan ibuku. Tapi polisi berkata ibuku akan berbohong. Kita tidak akan pernah tahu sampai kita mencobanya, kan?”
“Jadi itu kemauanmu?”
“Iya. bertanyalah padanya tentang siapa aku sebenarnya.”
“Tapi jika dia benar berbohong?”
“Aku kenal ibuku.”
“Baiklah, aku akan bertanya padanya besok –Insya Allah.”
“Thank you.”
&&&
Detik jarum jam terasa memekakkan telinga, menyajikan kecemasan luar biasa. Bibi Akane tidak bisa berhenti mondar-mandir di depan rumahnya menunggu Yi Jae pulang setelah mengantarkan mie ramen. Seharusnya dia sudah datang sore ini, tapi bahkan kini hari sudah bergulir malam.
“Bu, ada telepon,” ujar Mao muncul di pintu depan rumah.
“Dari Yi Jae?” tanya Bibi Akane.
“Suara bapak-bapak.”
“Dari polisi!” kata Bibi Akane yang juga mengkhawatirkan Zoh. Bibi Akane pun berlari dan segera menyambar telepon rumahnya tersebut. “Halo…”
“Selamat malam, apakah Seiji ada?”
“Seiji? Seiji siapa?” tanya Bibi Akane.
Terkait:

Reaksi:
Comments
2 Comments

2 komentar:

  1. tambah seru... yi jae ditahan yakuza, zoh diawasi oleh polisi..

    no critic deh, lanjut!

    BalasHapus
  2. maryam seru lanjutkan yah....

    BalasHapus

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...