Kamis, 07 Oktober 2010

Soru Part 3



Bibi Akane terperanjat. Dengan setengah berlari, wanita itu mendekati kedua polisi tersebut. “Ada apa? Kenapa anak saya harus ikut kalian?” tanyanya cemas.
“Zoh, kau tidak melakukan tindakan kriminal, kan?” tanya Yi Jae.
“Kenapa kalian ingin membawaku?” tanya Zoh pada dua pria itu.
“Jangan banyak tanya! Kau cukup ikut kami untuk diselidiki.”
Zoh diam, sementara Bibi Akane dan Yi Jae cemas bukan main. Mereka khawatir kalau Zoh telah melakukan tindakan kriminal sehingga kedua polisi itu harus membawanya.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Bibi Akane.
Zoh tersenyum. “Tenang, bu. Aku tidak bersalah apapun.” Zoh pun berjalan keluar dari rumahnya dengan boneka teddy bear masih di tangan. Bibi Akane terdiam melihat kepergian putranya bersama kedua polisi itu. Dia bahkan tidak mendengar para pembeli yang mulai protes.
“Nona, dimana pesananku?” tanya seorang pria. Bibi Akane tersentak, dia pun segera kembali ke dapur untuk membuatkan pesanan orang itu. Yi Jae sebenarnya ingin membantu Bibi Akane, tapi dia tidak bisa memasak. Dia hanya mengantarkan makanan itu ke meja pembeli saja. Yi Jae terdiam melihat wajah Bibi Akane yang masih menyisakan kecemasan. Walau dia bukan ibu kandung Zoh, tapi dia menyayangi Zoh seperti anaknya sendiri.
&&&
Di markas kepolisian, Zoh dibawa ke dalam sebuah tempat yang hanya terdapat sebuah satu buah kursi dan satu buah meja. Dia duduk di kursi lipat tersebut. Di hadapannya puluhan polisi menatapnya dengan sorotan tidak percaya. Kaget. Tapi Zoh sendiri yang tidak percaya, kenapa mereka membawanya kesini? Dan kenapa mereka menatapnya begitu?
Ada apa ini?”
“Apa kau sedang lupa ingatan?” tanya seorang polisi menghampirinya sehingga dia berada lebih dekat dengan Zoh daripada polisi yang lain. Polisi itu berusia sekitar 30 tahunan.
“Iya, lalu kenapa?” tanya Zoh. Para polisi itu mulai berbincang satu sama lain.
“Kenapa wajahmu tidak mirip?” tanya polisi itu yang tidak lain namanya Kimura.
“Dengan siapa?” tanya Zoh.
Kimura mengeluarkan sebuah foto. Foto Seiji Amano.
“Siapa orang itu?” tanya Zoh.
“Seiji Amano. Seharusnya orang ini adalah kamu.”
“Apa? Apa kalian gila? Orang yang berbeda bagaimana bisa dikatakan satu?!”
“Mungkin kau pernah operasi plastik,” ujar Kimura lagi.
“Untuk apa aku operasi plastik?”
“Mungkin karena wajahmu hancur akibat kecelakaan.”
Zoh benar-benar tidak mengerti sekarang. Apa polisi zaman sekarang semuanya bodoh? Kenapa tiba-tiba mereka berkata kalau dia adalah Seiji Amano yang lupa ingatan dan operasi plastik? Apa mereka tidak punya kerjaan lain selain mencurigai orang yang tidak bersalah?
“Baiklah, atas dasar apa kalian menuduhku Seiji Amano?” tanya Zoh.
“Boneka itu.” Seorang polisi lain muncul dari balik kerumunan polisi tersebut. Zoh terperangah, dia mengenali jelas polisi berpakaian mahasiswa tersebut.
“Nobu… kau…,” ujar Zoh dengan nada tercekat.
“Maaf tidak memberitahumu kalau aku adalah seorang FBI. Aku menggantikan posisi Seiji Amano untuk sementara waktu sebagai mata-mata yang membaur di kalangan remaja. Dan sebenarnya untuk mencari dimana Seiji Amano berada, itu bukanlah tugasku. Tapi setelah melihat kau seakan teringat sesuatu ketika melihat boneka ini, aku jadi curiga kalau kau adalah Seiji Amano.”
“Hanya itu?” tanya Zoh.
“Kudengar dari rekannya, Kyousuke Nakamura kalau Seiji mengalami tumor otak yang tepat mengenai saraf sehingga dia akan mudah menjatuhkan sesuatu. Kejadian yang kau ceritakan tentang boneka jatuh dari tanganmu, itu sama persis dengan yang terjadi pada Seiji. Seiji lalu menghilang di London setelah mengendarai motor sehabis operasi, jadi hari ini juga dengan bantuan hacker aku meneliti komputer internal setiap rumah sakit di London apakah ada seorang pemuda yang kecelakaan pada tanggal 23 September 2004. Dari puluhan data kecelakaan itu, ada yang menarik perhatianku, yaitu nama keluarga Sojiro yang mengaku anaknya yang kecelakaan. Aku meneliti lebih lanjut lagi, dan ternyata Bibi Akane menikah 15 tahun yang lalu. Bukankah itu aneh? Bagaimana dia bisa melahirkanmu yang sudah berusia 25 tahun?”
“Kau cepat sekali. Bagaimana kalau kau salah?”
“Sebenarnya aku sudah curiga sejak lama. Bukankah di rumahmu tidak ada foto masa kecilmu? Dan bukankah kau menyimpan foto Heo Yi Jae?” tanya Nobu.
“Apa hubungannya dengan gadis itu?”
“Heo Yi Jae, artis yang kini tinggal di rumahmu adalah mantan kekasih Seiji. Dan boneka yang kini kau bawa itu adalah barang yang bisa mengingatkannya pada Seiji. Bukankah kau merasa pernah melihat boneka itu sebelumnya?”
Zoh melihat boneka teddy bear yang dibawanya. Benar, ia merasa pernah melihat boneka itu sebelumnya. Hanya saja dia tidak ingat dimana dan kapan. “Lalu jika benar aku adalah Seiji Amano, apa yang ingin kalian inginkan dariku? Aku sudah tidak ingat apapun tentang diriku sendiri apalagi kalian.”
“Kita menginginkan agar kau tetap disini bersama kepolisian,” ujar Kimura. “Jika kau benar adalah Seiji Amano, maka asal kau tahu. Bos yakuza yang tidak lain adalah pamanmu sedang mencarimu agar kau menggantikan ayahmu yang telah meninggal. Tentu saja kami tidak ingin rekan kami menjadi bagian dari musuh kami sendiri.”
Zoh terdiam. Semua ini terasa tidak mungkin. Bagi Zoh yang anak muda biasa dan cuma tukang antar mie ramen, keren sih kalau sebenarnya dia adalah Seiji Amano si mata-mata sekaligus penerus yakuza. Tapi itu sangat aneh. Dan yang lebih anehnya lagi, dia adalah mantan kekasih gadis yang sering bertengkar dengannya itu.
&&&
Hari telah bergulir malam dan pijar lampu kota mewarnai pinggir jalan kota Tokyo. Dari dalam bus, Yi Jae menatap keluar jendela. Sudah lama dia tidak menyaksikan lagi huruf-huruf kanji yang menghiasi bangunan yang berdiri di pinggir jalan. Yi Jae menghela nafas. Ia kembali teringat Bibi Akane yang khawatir bukan main karena Zoh belum juga pulang sampai sekarang.
Mata Yi Jae mendapati seseorang yang sedang berjalan di trotoar. Kyousuke Nakamura. Rekan Seiji yang ikut Seiji liburan ke London beberapa tahun yang lalu. Yi Jae langsung berlari ke arah supir meminta untuk berhenti. Setelah bus itu berhenti, Yi Jae langsung turun dan mendekati Kyousuke. Gadis berjilbab itu menghalangi jalan pria tersebut. Kyousuke kaget melihat mantan kekasih rekannya. Yi Jae pasti akan menanyakan kabar Seiji, dia harus kabur tapi Yi Jae terus menghalangi jalannya.
“Hanya satu pertanyaan,” kata Yi Jae.
“Jangan bertanya dimana Seiji.”
“Tidak. Aku tidak ingin tahu dia dimana karena aku tidak akan mencarinya. Aku hanya ingin tahu, apa yang terjadi?”
“Dia baik-baik saja.”
“Apa?”
“Dia baik-baik saja sekarang. Walau aku tahu dimana dia sekarang, aku tidak mau memberitahumu. Terlalu berbahaya memberitahu dimana Seiji berada.”
“Aku bilang aku juga tidak ingin tahu. Katakan padanya kalau aku juga sudah tidak peduli dan sudah melupakannya!”
“Aku rasa dia juga sudah melupakanmu.”
“Baguslah kalau begitu. Selamat malam!” ujar Yi Jae lalu melangkah pergi. Kyousuke terdiam, dia bahkan tidak percaya apa yang baru saja dia katakan. Tapi dia mengatakan ini semua ada tujuannya. Kepolisian tidak ingin identitas Seiji terungkap. Bahkan jika mengatakan kepada Yi Jae sekalipun.
&&&
Sinar matahari mengintai di balik kapas-kapas putih yang melayang di langit. Bibi Akane yang sedang membersihkan debu di lantai dengan penghisap debu mendengar telepon berdering, menunggu untuk diangkat. Wanita berusia 40 tahun itupun mengangkat telepon tersebut. Dari kepolisian.
“Ryuji Sojiro baik-baik saja bersama kami. Dia tidak bersalah,” ujar polisi di seberang sana membuat Bibi Akane bisa bernafas lega. Yi Jae yang berada disana juga ikut bernafas lega melihat raut Bibi Akane.
“Lalu kapan Zoh bisa pulang?” tanya Bibi Akane.
“Dia tidak bisa pulang minggu ini. Masih ada yang perlu kami selidiki.”
“Bukankah kalian berkata Zoh tidak bersalah?” tanya Bibi Akane.
“Kami tidak bisa menjelaskannya. Nona tenang saja, putra Anda baik-baik saja. Kepolisian akan menjaganya,” kata polisi itu.
“Apa aku boleh menjenguk Zoh?”
“Tidak bisa. Kami sedang melakukan spionase rahasia bersamanya.”
“Kalau begitu, apa aku bisa bicara dengannya sekarang?”
“Tentu saja, sebentar.” Polisi itu menghilang dalam pembicaraan. Sepertinya ia sedang memanggil Zoh untuk menerima telepon dari ibunya itu. Tidak lama kemudian…
“Bu, aku disini baik-baik saja. Ibu tenang ya,” kata Zoh di seberang sana.
“Apa yang mereka lakukan padamu?” tanya Bibi Akane.
“Tidak ada. Mereka mencurigaiku sebagai anggota kepolisian yang lupa ingatan saja. Mereka pasti telah salah orang, kan?”
Bibi Akane membisu.
“Bu, mereka salah orang kan? Apa benar aku adalah anggota kepolisian? Apa benar aku bukan anak kandungmu, bu?” tanya Zoh.
&&&
Di markas kepolisian, Zoh sedang menelepon Bibi Akane sebelum akhirnya teleponnya direbut oleh Kimura. Padahal Bibi Akane belum menjawab pertanyaan itu.
“Jangan bicara terlalu banyak di telepon.” Kimura memutuskan sambungan telepon Zoh dengan Bibi Akane. Zoh menatapnya tidak mengerti.
“Bukankah menguntungkan jika kalian mendapat informasi dari ibuku? Dia kan yang mengambil andil cukup besar tentang apa yang kualami jika aku benar Seiji Amano,” kata Zoh.
“Tidak ada teknologi yang aman, kami takut yakuza menyadap pembicaraan ini.”
“Lalu apa kalian sudah puas tanpa mendapat keterangan dari ibuku?” tanya Zoh.
“Apa dia akan berkata jujur?”
“Kalian sudah membuntutiku kemarin dan sekarang berkata ibuku pembohong? Aku percaya dia akan berkata jujur walau itu mencelakai dirinya.”
Kimura terkejut. Alisnya terpaut menggaris dahi. Polisi yang kini berdiri di depan Zoh itu bekerja di bagian penyelidikan, dan dia rasa tidak ada perintah untuk membuntuti Zoh kemarin. “Apa katamu? Membuntutimu?”
“Siapa lagi kalau bukan kalian yang membuntutiku kemarin? Berpakaian hitam dan mengejarku hingga ke gang sempit. Tapi jangan panggil aku Zoh jika tidak bisa mengelabui kalian,” kata Zoh. Kimura melihat ke arah teman-temannya. Para polisi yang lain yang berada di ruangan tersebut mengangkat bahu tanda tidak tahu.
“Yakuza…” ucap Kimura pelan. “Sepertinya kau harus bersama kami lebih lama lagi.”
“Hey! Aku bukan boneka kalian, oke?!”
“Kami menyembunyikanmu untuk melindungimu, tahu!”
“Aku tidak peduli kalian melindungiku. Toh, aku bukan siapa-siapa sekarang. Hanya seorang pengantar mie ramen.”
“Bagaimana kalau kau benar adalah Seiji Amano?” Kyousuke masuk ke dalam ruangan tersebut membawa sebuah boneka teddy bear memakai pengantin wanita. Kyousuke menyerahkan boneka itu kepada Seiji. Seiji mengambilnya dan memperhatikannya. Tiba-tiba saja pusing di kepalanya kambuh lagi. Wajah Yi Jae muncul di benaknya menunjukkan dua boneka yang kini dia pegang. Bayangan yang hanya sekilas.
“Seiji, aku yakin ini kau,” ujar Kyousuke. “Malam itu setelah kau memintaku untuk membawa motor ke rumah sakit, kau mengendarai motormu padahal kau baru saja dioperasi. Apa kau ingat?”
“Kyousuke, jangan memaksanya,” ujar Kimura.
“Seiji adalah FBI dengan segudang prestasi. Apa kau mau membiarkan dia hilang ingatan selamanya?” tanya Kyousuke.
“Yang terpenting adalah jangan sampai dia jatuh ke tangan yakuza!”
“Tidak apa-apa, teruskan saja!” kata Zoh pada Kyousuke. Kyousuke berbalik melihat Zoh yang menunduk. Matanya yang nanar tertutup bayangan rambut. Sepertinya kembali berkelebat bayangan-bayangan aneh dalam benaknya yang membuat kepalanya pusing. Pusing sekali.
“Aku mendengarnya dari Jessica, kalau siang itu kau baru pulang dari rumah sakit membawa hasil rontgen. Kau terkena tumor otak yang membuat sarafmu melemah sehingga kau akan sering jatuh dan sulit memegang sesuatu. Karena kau sangat mencintai Yi Jae, makanya kau merahasiakan penyakit yang bisa mengakibatkan kematian itu. Kau juga telah putus asa dengan operasi, jadi kau memilih untuk menjauhi Yi Jae dan membuatnya benci kepadamu. Malam itu, kau berkata pada Yi Jae kalau Jessica adalah tunanganmu. Apa kau ingat? Kau menangis waktu itu.”
Zoh semakin merunduk. Jari-jemari kedua tangannya mencengkram rambutnya erat-erat. Seperti ingin mencabuti rambutnya sendiri. Entah kenapa mendengarnya seperti sebuah pukulan yang berat yang bisa membuatnya gila. Atau mungkin dia sudah gila sekarang. “Berhenti…” ucapnya pelan.
“Malam itu bajumu basah karena teman sekolahmu menghajarmu sampai jatuh ke kolam renang setelah kau mencium bibir Jessica. Semua orang memandangmu jijik. Peristiwa itu tidak mungkin kau lupakan, Seiji. Kau tidak mungkin lupa.”
“BERHENTI KATAKU!!” bentak Zoh. “KEPALAKU KOSONG! AKU TIDAK MAMPU MENGINGAT APAPUN! KAU HANYA MEMBUATKU MENJADI GILA, TAHU!!” Zoh lalu membuang wajahnya. Seluruh polisi disana yang melihatnya tidak lagi berani mengganggu Zoh yang baru saja meledak. Kyousuke berjalan menjauh.
“Mulai hari ini, kita perlu memberinya tempat tinggal untuk sementara,” bisik Kimura pada Kyousuke. “Aku merasa jika setiap hari dia disini dengan puluhan polisi memandangnya seperti sesuatu yang aneh, itu akan membuatnya gila.”
“Iya, kau benar,” bisik Kyousuke.
&&&
Terkait:

Reaksi:
Comments
1 Comments

1 komentar:

  1. uah...akhirnya nongol juga lanjutannya...
    tp bukannya yang ini udah part 3?
    no critic deh..ceritanya bagus..n konfliknya udah mulai terasa

    lanjuutt!

    BalasHapus

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...