Minggu, 31 Agustus 2014

Penerimaan yang Tulus

Hujan di Jakarta. 
(Gambar dipinjam dari: Detiknews.com)

Waktu terus berputar dalam dimensi kehidupan manusia. Mentari beringsut kembali dalam lingkup terbenamnya. Perlahan namun pasti, senja mulai temaram. Langit pun mulai menghitam dan hujan turun mengguyur persendian ibu kota. Aku duduk di depan sebuah toko dengan pandangan kosong. Bingung.., mungkin itu kata yang mewakili banyak rasa yang kualami.

Malam kian merangkak naik, sementara hujan tak kian surut. Tak selangkah pun aku keluar  dari toko untuk rapat di kampus. Sementara, masih banyak amanah lain terpikul di punggungku. Tentu saja ya, setiap orang memiliki impian dalam hidupnya, impian yang ingin diwujudkan. Sekarang aku sudah tidak peduli, aku bahkan takut menghadapi kenyataan bahwa hidup hanya berisi masalah yang tak kunjung selesai.

Malam itu, aku baru saja kehilangan salah satu persyaratan administrasi AIESEC UNJ pertukaran pelajar ke Taiwan. Setelah berhasil melewati 3 tahap seleksi ketat dan lolos, aku tetap tidak berangkat ke Taiwan. Belum lagi, ada banyak rapat harus kuhadiri, penelitian minat baca yang kulakukan sebelum mewawancarai rektor dan orang-orang sibuk lainnya, aku juga harus belajar untuk UAS yang menumpuk dan lagi menyelesaikan membaca buku setebal 500 halaman untuk didiskusikan besok pagi.

Aku harus ini… Aku harus itu…

Mungkin… bagiku sekolah hanya kendaraan menuju mimpi. Dengan berlandaskan teori Gayatri Chakravorty Spivak yaitu kaum penjajah dan kelas terjajah, ternyata kualitas hidupku tidak bermutu. Aku adalah kaum terjajah itu dan aku baru menyadarinya. Apalagi, mimpiku hanya sebatas melanjutkan kuliah di luar negeri dan menulis sebuah buku. Aku tidak pernah bermimpi besar untuk menghilangkan kebodohan negeri ini.

Mimpiku… apakah begitu penting?

Waktu telah menunjukkan pukul 8 malam. Teringat belum shalat isya, aku pun berlari di bawah hujan menuju musholla terdekat. Musholla At-Taubah, yang biasanya dipakai oleh anak-anak Rumah Belajar TEKO untuk belajar atau mengaji. Sudah pukul delapan malam seharusnya TPA sudah selesai. Namun, sayup-sayup kembali kudengar suara bocah-bocah itu. Aku pun berjalan mendekati sumber suara.

Foto Mushalla At-Taubah di siang hari
(Gambar dipinjam dari Facebook Rumbel Teko)

“Assalamu’alaikum…” sapaku di depan pintu. Ternyata masih ada Maman, Iyan dan Nur sedang membaca buku cerita anak-anak di pojok ruangan. Bocah-bocah bertubuh ringkih itu langsung terkesiap. Kulihat terkembang layar kepayahan di wajah-wajah mungil setelah bermain-main dan belajar seharian. Membuatku tersenyum kecil melihat mereka.

“Kak Maryam ngapain kesini?” tanya Nur. Mengingat hari ini memang bukan hari jadwal biasanya aku mengajar.

“Kak Maryam belum sholat isya, mau sholat dulu.”

“Kak Maryam belum sholat isya?” tanya Maman tidak percaya. “Kita mah udah dari tadi ya…,” ujarnya pada yang lain. Aku hanya diam dan menaruh tasku di dekat mereka.

“Kak Maryam naro tas disini dulu, ya,” ucapku lalu beranjak keluar untuk mengambil air wudhu. Saat melangkah masuk, entah perasaan seperti apa yang kurasakan saat itu. Aku menggelar sajadah dan shalat isya, berharap Dia menguatkan punggungku. Sementara Maman, Iyan dan Nur masih asyik membaca buku anak-anak di pojok ruangan.

Selesai shalat, aku kembali melihat mereka. Gurat-gurat keseriusan terpancar dari mata wajah-wajah lelah itu. Aku tak ingin mengganggu, karena kupikir mereka sedang serius membaca buku cerita anak-anak. Aku pun mengambil handphone dari tas untuk menelepon ummi. Namun sebelum aku menelepon ummi, anak-anak itu mengelilingiku memegang handphone.

“Kak Maryam bikin rekaman yuk..…” ajak mereka.

Sebenarnya aku sering mendengar teguran dari kakak pembimbing yang lain tidak boleh menunjukkan handphone di depan anak-anak Rumbel TEKO. Nanti mereka bisa rebutan bahkan membanting handphone tersebut. Selain itu, mereka akan membanding-bandingkan kakak mana yang baik hati dan tidak baik hati untuk meminjamkan handphone.

“Ayo kak…!!!” ajak Nur dengan suara nyaring. Rupanya, ia lebih galak dariku.

Aku ragu, mengingat baru kemarin anak rumbel TEKO melompat di atas tasku yang berisi laptop lalu melemparnya dari pojok ke pojok ruangan.

“Tapi kakak yang pegang hapenya, ya!” ujarku. Awalnya, aku membuat video mereka lompat-lompatan, dan berlari kesana kemari di depan kamera handphone. Mereka pun, melompat, berteriak ke arah kamera sambil berlari mengelilingi ruangan.

Sampai akhirnya, Iyan tidak sengaja mendorong Nur hingga menangis. Iyan enggan meminta maaf, Nur terus menyalahkan. Aku terdiam serba salah juga bingung dengan apa yang harus kulakukan. Jadi kubiarkan Nur terus menangis saja sambil membujuk Iyan untuk belajar meminta maaf.

Mereka pun baikan lagi tidak lama kemudian. Iyan menjulurkan tangannya dan Nur langsung berhenti menangis begitu saja? Seakan-akan kejadian tadi tidak pernah terjadi. Luar biasa, aku melihat kembali dunia anak-anak yang polos itu.. Tentang berani meminta maaf, tentang penghargaan pada orang lain, dan tentang penerimaan yang tulus.

“Sekarang foto-foto aja deh, satu-satu,” kataku untuk mencegah mereka lompat-lompatan dan saling mendorong lagi. “Hm… Nur dulu deh,” ujarku untuk menghibur hatinya.

“Bertiga aja, kak…” sambut Iyan.

“Iya, sambil megang piala… ayo Nur!” ajak Maman mengambil piala dari bupet. Piala-piala itu adalah hasil perlombaan adzan dan hafalan surat pendek yang dimenangi anak-anak Rumbel TEKO.

“Gak…, Satu-satu dulu. Nur dulu nanti ganti-gantian….” Sahutku.

“Barengan aja, Kak Maryam mah..!!” Nur galak memarahiku dengan suara yang tinggi. Aku terhenyak begitu mendapat omelannya lagi. Itu artinya, dia benar-benar sudah tidak bersedih.

“Tapi jangan berantem ya...!” kataku. Mereka pun langsung berjejer bertiga sambil memegang piala dengan wajah bangga. “Satu… dua… tiga!”


Dari kiri ke kanan: Maman, Iyan, dan Nur
(Doc. Pribadi)

Setelah itu aku bertanya mimpi mereka saat besar nanti. Aku benar-benar penasaran. Maman berkata ingin menjadi ustadz mengajar ngaji seperti bapaknya dan Nur ingin menjadi dokter. Sementara Iyan masih bingung mau jadi apa. Hm, mereka mungkin belum bisa membedakan mimpi dan cita-cita, tapi tidak apa-apa… aku belajar banyak hari itu, tentang ketulusan, keberanian, menghargai orang lain, mendengarkan, mendoakan, juga penerimaan yang tulus.

Ya, penerimaan yang tulus untuk memaafkan segala kejadian yang menimpa diri kita. Termasuk kejadian yang menimpaku pagi tadi.

Mereka memang anak-anak dari slum area di tengah hiruk pikuk ibu kota yang ditanami gedung-gedung angkuh. Tapi mereka adalah malaikat-malaikat kecil yang hebat dan tangguh. Ya, mimpi-mimpi mereka mungkin sama sederhananya denganku, melanjutkan sekolah tingkat lebih tinggi dan menggapai cita-cita. Sangat sederhana dibandingkan mimpi anak-anak Jakarta lain yang ingin mengelilingi dunia atau menjadi pahlawan super. Bahkan bisa dikatakan mimpi kami syarat keegoisan demi membuktikan bahwa kami adalah bagian yang tersembunyi dari kehidupan.

Bagiku menempuh pendidikan hingga ke luar negeri adalah sesuatu yang luar biasa. Sewaktu kecil, bisa dikatakan hal itu mustahil. Namun, sekarang aku bisa melihatnya tinggal selangkah di hadapanku. Meski pada akhirnya belum dapat kugapai. Setidaknya, mimpi memberikan harapan untuk mewujudkan apa yang selama ini kuanggap mustahil. Aku tidak butuh teori untuk mengerti dan menjelaskannya.

Aku melihat gerimis mulai surut di luar.

“Kak Maryam pulang dulu, ya.”

“Iya kak,” kata mereka setelah lelah bermain.

 “Assalamu’alaikum…” ujarku. Mereka bahkan tak sempat menjawab salamku karena sibuk dengan buku cerita mereka kembali. Aku mengambil tasku dan memakai sepatuku. Sejujurnya aku juga sudah sangat lelah menangis seharian karena rasa takut dan penyesalan. Bahkan tak ada apapun yang masuk perutku hari ini.

Malam kian purna. Waktu kulampui dengan terus berjalan ke kosan. Meski begitu, tak kupercepat langkah dibawah gerimis. Saat itu, kuperhatikan hingar bingar gedung-gedung kota yang mencekam, tetesan air bergelantungan di taman yang remang, kuperhatikan luapan air sungai yang kelam, kuperhatikan dengan pandangan menerawang yang kosong. Hanya wajah anak-anak itu yang menyesaki ruang kepalaku saat ini…

Saat ini, aku bahkan tak sanggup lagi untuk menangis. Bayanganku terus mengikuti tubuhku sepanjang malam bergulir. Yang kurasakan hanya liukan hawa dingin kian mencekam. Lampu-lampu temaram berjajar. Pendarnya seakan senja yang tumpah di mataku yang muram. Sementara gerimis masih turun.... sebelum semuanya gelap.


Tulisan ini disertakan dalam lomba blog, yuk berbagi mimpimu juga lewat ^_^ :  http://http//www.kontesmimpiproperti.com/event-blog-kontes/

Reaksi:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...