Senin, 07 November 2016

Pengalaman Visa Amerika Ditolak Hingga Diterima


Visa amerika ditolak, visa amerika serikat, cara mendapatkan visa amerika, pertanyaan saat wawancara visa amerika, visa amerika 2017, visa amerika ditolak 2017, visa amerika turis b1/b2, biaya visa amerika, visa amerika diterima, tips dan trik mendapatkan visa amerika, mengapa visa amerika ditolak.

Tepat tanggal 27 agustus 2016 adalah penerbangan pertamaku keluar negeri. Sebelumnya aku belum pernah keluar negeri, meski ke negara-negara ASEAN pun belum. Namun bermodalkan nekat dan penasaran, aku mendaftar sebuah program summit bernama Merit 360 yang acara puncaknya di kantor pusat PBB New York Amerika Serikat. Dimana temen-temen sendiri tahu, New York termasuk salah satu kota termahal di dunia, dan berada di negara dengan kurs di atas 10.000. Negara adidaya yang terkenal sangat liberal. (Baca artikel berkaitan: 14 Cara Menjadi Pembicara Forum Internasional)

Mendengar sharing dari teman-teman Indonesiaku yang lainnya, katanya mengajukan visa amerika itu sangatlah mudah. Hanya beberapa menit dan langsung accepted. Sehingga aku pun lebih menyepelekan dalam hal mengurus visa ini. Dalam persiapan pengurusan visa pun, aku hanya searching-searching di google “Cara Mendapatkan Visa Amerika.”. Dan rata-rata, isi postingannya bilang kalau mendapatkan visa ke Amerika itu mudah. Namun aku gak sadar bahwa para blogger-blogger itu sudah sering keluar negeri beberapa kali.


bersama dengan delegasi dari Indonesia


Aku pun mulai pengurusan pembuatan visa pertama 1 bulan sebelum keberangkatan, bayar ke bank CIMB Niaga $160 atau sekitar Rp 2.160.000,- pada hari Kamis dan Jumatnya aku sudah bisa menentukan jadwal wawancaraku kebagian hari Selasa Siang (batch 2). Pas datang di kedutaan, banyak orang-orang keturunan Chinese mengantri di depan gerbang kedutaan. Mereka memakai pakaian, tas, dan sepatu branded. Antrian semakin siang semakin panjang, beberapa pengaju visa yang lain datang, turun dari mobil mewah mereka (Mercedez, Toyota Alphard, dll). Dan mereka pun rela mengantri panas-panas di luar gerbang.

Entah apa mereka yang terlalu mewah, atau dandananku yang terlalu ‘muslimah. Tadinya aku pikir aku sudah cukup rapih, tidak sampai melihat dandanan para pelamar visa yang lain.

Saat masuk dan kami melewati serangkaian pemeriksaan barang bawaan. Barang-barang elektronik dititipkan dan makanan harus dibuang sebelum masuk ke kedutaan. Di dalam kedutaan pun, para pelamar visa diminta duduk di sebuah ruangan yang tidak ber-AC karena langsung berada di alam di samping tempat parkir mobil. Aku bertanya-tanya, apakah di kedutaan lain juga pelayanannya seperti ini?

Sampai akhirnya giliranku masuk dan aku diminta melakukan sidik jari. Setelah itu nomorku dipanggil. Dan aku menghadap seorang wanita bule berambut pirang dan kurus. Dia menanyakan beberapa hal, seperti mau apa aku kesana, apakah aku sudah pernah pergi keluar negeri sebelumnya, dengan siapa aku kesana, dan apakah aku sudah punya pekerjaan. Dia menanyakan dengan singkat-singkat tanpa meminta penjelasan lebih lanjut, sampai akhirnyat tidak sampai 2 menit wawancara, “I am sorry your visa has been rejected.”




Duar!! Rasanya seperti bumi runtuh seketika saat itu juga. Padahal aku mengikuti semua saran-saran dari internet tentang cara mendapatkan visa amerika, aku juga melakukan wawancara dengan percaya diri. Tapi…. kenapa? Si bule pun memberikan aku kertas merah, lalu aku bertanya “Why..?” Dia bilang kalau misalnya situasiku saat ini belum bisa ke Amerika sekarang. Mungkin beberapa tahun lagi katanya. What what what??? Seriously…

Emosiku masih belum stabil saat itu dan duduk beberapa lama di kedutaan untuk memikirkan apa yang barusan terjadi dan ada masalah apa dengan aplikasi visaku itu. Karena wawancara visa yang tidak sampai dua menit tersebut, aku langsung memikirkan apakah ini karena penampilanku yang terlalu ‘muslimah’ atau bagaimana?

Sepulang dari kedutaan dan sampai di rumah, emosiku sudah mulai sedikit lebih stabil. Yang menakutkan bagiku adalah catatan namaku di kedutaan pengalaman visa pernah ditolak. Maka, sekali ditolak untuk kesananya bakal lebih mudah ditolak lagi karena belum ada perubahan hidup yang berarti padaku. Ummiku kan punya channel ke para pejabat tinggi negara, begitu pula kakakku yang temannya bekerja di kedutaan Amerika Serikat. Namun sayangnya pejabat tinggi negara hingga staf kedutaan Amerika pun tidak sanggup membantuku jika namaku sudah punya “catatan hitam” di bagian visa. Justru aku malah balik dimarahi.

Aku pun membaca kertas merah yang kudapatkan dari si bule, dan dituliskan bahwa aku dikenai pasal 214(B) yang berkata bahwa “Failured Establish Ties to Origin Country.” Itu artinya “Aku Gagal Menunjukkan Ikatan Kuat dengan Indonesia.”

Karena si bule gak ngejelasin ini maksudnya apa dan aku gak mengerti juga. Jadi aku searching-searching sendiri ini maksud tulisannya apa. Kalau sebelumnya aku searching “Cara Mendapatkan Visa Amerika.” Sekarang searchingan ku diubah menjadi “Visa Amerika Ditolak.” Dan ternyata, cerita mengenai visa Amerika ditolak lebih banyak. Mungkin karena kegagalan lebih memberikan pelajaran daripada keberhasilan guys, dan lebih berkesan di hati.

95% cerita yang kubaca, mereka juga dikenai pasal 214(B). Meski sudah membawa Invitation letter dari pihak penyelenggara di Amerikanya atau surat undangan dari saudara di Amerika, tetaplah ditolak. Sebagian besar, mereka bilang alasan visa mereka ditolak adalah karena belum pernah keluar negeri sebelumnya. Jadi pihak kedutaan Amerika akan menduga bahwa kita orang ‘miskin’ yang mau langsung ke negara Amerika dan akan menjadi ‘gelandangan’ baru. Padahal para pelamar yg gagal ini sudah menyajikan serangkaian bukti bahwa hidup mereka disana akan terjamin.

Usut punya usut, karena bacain cerita curhat mereka, dari analisisku…. sebagian besar cerita yang ditolak justru karena mereka menyerahkan ‘invitation letter’ itu. Sebagaimana aku juga memperlihatkan ‘Invitation Letter’ tersebut ke pihak kedutaan. Dan di invitation letter itu disebutkan, bagaimana aku akan mendapatkan akomodasi, penginapan dengan air hangat, transportasi, dan makanan 3x sehari. Dan tidak mungkin aku juga menjadi gelandangan dengan full service seperti itu.


bersama tim SDG3 di PBB


Jadi… kesimpulannya adalah, justru pihak kedutaan khawatir kita akan terlalu betah di Amerika dan tidak mau kembali ke Indonesia. Malah menjadi imigran gelap disana. Well, sebagaimana kita tahu bahwa di Amerika sendiri sudah terlalu banyak imigran. Sementara aku belum pernah keluar negeri, yang membuktikan aku sebelumnya akan kembali lagi ke Indonesia meski pernah merasakan tinggal di luar negeri. Sehingga alasan jika belum pernah keluar negeri langsung ke Amerika akan susah mendapatkan visa itu tidak sepenuhnya benar, namun juga tidak sepenuhnya salah. Hanya saja itu bukan alasan langsung. 

Setelah tahu seperti ini, sebelumnya Alhamdulillah aku sebelumnya pernah mengajukan dua proposal dan surat pada Presiden dan Wakil Presiden Indonesia, Bapak Jokowi dan Bapak Jusuf Kalla. Proposal tersebut adalah tentang partisipasiku ke PBB dan aku meminta bantuan dari istana. Dan alhamdulillahnya, memang saat itu juga aku mendapatkan surat dari Kepala Sekretaris Negara dan Kepala Sekretaris Wakil Presiden tentang sampainya suratku ke istana, bahkan hingga ke tangan Pak Jusuf Kalla. (Eits,,, baca sampai akhir ya, jangan minder karena ini. Hehehe).

Dua surat tersebut yang menjadi modal senjata untukku, dan selanjutnya aku mengajukan permohonan dana ke kemenpora. Selain dari kemenpora, dari kemenristek dikti juga aku mendapatkan sebagian reimburse dari perjalananku. Dan mungkin aku yang merasa atau bagaimana, karena surat dari SekNeg itu yang bikin aku dapat perlakuan spesial di Kemenpora. Bahkan salah seorang ibu karyawati di bidang kepemudaan bertanya padaku, “Kamu kenal siapa di SekNeg?”. (Baca artikel berkaitan: Tips Mendapatkan Sponsor Acara Keluar Negeri.)

Selain dari kemenpora, aku juga minta surat dukungan dari Bupati Kabupaten Kuningan dan surat dukungan dari Kampus. Aku juga meminta pihak World Merit untuk mengirim email langsung ke kedutaan AS bahwa aku akan kembali ke Indonesia pada waktu tertentu yang telah disepakati. Selain itu juga, terdapat artikel tentangku di sebuah Koran Nasional satu halaman penuh. Dimana bukan hanya pemerintah, seluruh rakyat Indonesia setidaknya bakal jadi saksi bahwa aku akan kembali ke Indonesia (lebay banget emang).


Jadi berikut list untukku mengajukan banding untuk permohonan visa ulang:
1.      Surat resmi/jaminan dari sekretaris negara.
2.      Surat resmi/jaminan kepala sekretaris wakil presiden.
3.      Surat resmi/jaminan dari Kemenpora.
4.      Surat resmi/jaminan dari Pemerintah Kabupaten Kuningan.
5.      Surat resmi/jaminan dari kampus.
6.      Email dari penyelenggara konferensi (World Merit) ke kedutaan.
7.      Artikel tentang partisipasi di Koran nasional.

Akhirnya aku pun membayar kedua kalinya $160 ke bank CIMB Niaga dan mengajukan permohonan visa ulang yang jauh lebih lengkap. Dan yang membiayai perjalanan waktu itu kutulis adalah kemenpora.

Dua minggu sebelum keberangkatan, akhirnya aku melakukan wawancara visa kembali. Hari selasa juga, namun kebagian pagi hari. Well, dalam hati mungkin juga berharap bulenya masih seger dan masih fresh sehingga moodnya bagus.

Dan tidak lupa, dandananku diubah dan dipoles dikit. Gak terlalu muslimah dengan jilbab panjang banget, tapi dipendekin jilbabnya dan memakai celana. Pakaian warna cerah, tas branded dan perhiasan mahal, juga sedikit make up. Beda banget sama sebelumnya yang pakai jilbab panjang warna hitam dan rok hitam. Aku deg-degan banget saat itu karena aku udah punya catatan hitam di kedutaan Amerika Serikat. Kalau ditolak lagi kayaknya mau tenggelem aja ke perut bumi.

Akhirnya tiba giliranku, dan si bule pun langsung bertanya, “What’s the different from yesterday, Maryam?”. Pertanyaan ini mengingatkanku bahwa si bule pasti research dulu tentangku, dan menguji kejujuranku. Beginilah kira-kira percakapannya:
Aku     : “Good morning.”
Bule     : “What’s the difference from yesterday, Maryam?”
Aku     : “The ministry will cover my flight cost, and I have to go back to Indonesia to give the report of the conference.”
Bule     : “Who’s going to pay for the flight cost?”
Aku     : “The ministry of youth and sport. I have the official letter from the ministry.”
Bule     : “Hm, it’s okay. Why they want to pay your flight cost?”
Aku     : “Because this is a job from the government. I am working for the regent of Kuningan west Java and also I am a vice president of a local NGO.”
Bule     : “Did you travel overseas before?”
Aku     : “I didn’t, but I have attended a lot of international conferences in Indonesia and this is the series of the event.”
Bule     : (angguk-angguk dan ketik-ketik)
Aku     : “World Merit has sent an email to you, that I’ll go back to Indonesia.”
Bule     : (angguk-angguk) “Congratulations, your visa has been accepted.”

Dan begitulah percakapan 3 menit yang mungkin akhirnya menjadi life-changing experience buatku. Visaku diterima saat itu juga dalam waktu singkat. Jika dilihat lagi, terdapat pertanyaan-pertanyaan jebakan yang ditanyakan sama si bule seperti “Did you travel overseas before?” seperti itu. Padahal dia sendiri tahu bahwa dalam catatan pasporku, aku belum pernah keluar negeri sebelumnya. Pertanyaan-pertanyaan ini diajukan untuk menguji kejujuran kita saja.
Kantor Pusat PBB, New York

Singkatnya, aku seneng banget akhirnya visaku diterima. Bahkan seorang agen perjalanan internasional dimana aku beli tiket pesawat ke Amerika aja bilang tidak mungkin aku akan mendapatkan visa Amerika dengan kondisiku seperti ini. Kecuali aku punya rekening gendut di atas 50 juta rupiah. 

Bagaimana perjalananku di Amerika kutulis dalam 2 artikel berikut:
Pengalaman Merit 360 dan Unjuk Ide di PBB
Hari Pertama Menginjakkan Kaki di Negeri Paman Sam 

Singkat saja, beberapa tips dariku untuk mengajukan visa amerika:
1.      Ikuti prosedur di website http://www.ustraveldocs.com/ dan baca baik-baik aturan yang tercantum disana. Persiapkan juga semua dokumen yang diminta dan memenuhi persyaratan seperti tertulis di website.
2.      Penampilan yang menunjukkan bahwa kita orang ‘berada’. Jangan juga membawa ransel. Dan usahakan menggunakan pakaian berwarna cerah.
3.      Jika invitation letter tidak diminta, jangan ditunjukkan. Lebih baik menunjukkan surat-surat yang menunjukkan bahwa kita punya ikatan kuat dengan Indonesia.

TAMBAHAN SUPER PENTING:
4.      Jawablah wawancara dengan jujur dan percaya diri. Ketika diwawancara, mungkin kita akan ditanya pendek-pendek, tapi jawablah dengan detil dan panjang lebar. Jangan berhenti menjelaskan sebelum disuruh berhenti sama si bule. Ini penting, karena bule menghadapi ratusan pelamar tiap harinya, jika kita tidak stand out, pengajuan visa kita akan mudah sekali dibatalkan.

5. Mintalah surat Letter of Guarantee (surat jaminan) bahwa kita harus wajib bin kudu kembali ke Indonesia. Karena embassy Amerika di seluruh dunia (hasil research saya pada puluhan negara yang hadir di Merit 360) mereka biasanya yang sempat tertolak atau tak ada pengalaman ke LN, mudah mendapat visa jika mendapat letter of guarantee tersebut. LoG bisa didapatkan dari institusi/perusahaan kita berafiliasi. Bahwa ikatan kita ke Indonesia lebih kuat daripada ke Amerika serikat. Memberi bukti kuat bahwa kita bukan calon imigran gelap baru.

6. Semua surat-surat yang menjamin kita kembali ke Indonesia (surat jaminan, surat garansi dari bos, surat dukungan, surat sponsor, slip gaji, keterangan mahasiswa dsb) langsung ditaro di depan kaca si bule. Depan wajah si bulenya. Setumpuk besar. Meski si bule tak bertanya untuk melihat semua surat itu, tidak apa-apa. Yang pasti semua dokumen itu diperlihatkan di depan kaca si bule. Kayak nasihat Frank William Abagnale ketika seorang murid di sekolahnya izin ke dokter dan membawa surat ibunya, Frank menyiratkan bahwa orang cenderung takkan melihat isi suratnya. Hanya melihat bahwa kita bawa surat.

7. Kalau bisa ambil yang pagi karena bule-bulenya masih fresh, moodnya masih bagus, dan belum banyak menangani pelamar. Kalau mau lebih aman lagi, apply yang di Surabaya karena jumlah pelamarnya lebih sedikit daripada yang di Indonesia. Jadi bulenya lebih ramah dan moodnya lebih bagus daripada yang di Jakarta (kewalahan pelamar).

8. Kalau pernah ditolak dengan kertas merah, saat pengisian aplikasi yang kedua, isi di kolom yang membedakan kita dengan lamaran sebelumnya bahwa lamaran kita kali ini didukung, disponsori, atau ada jaminan kuat dengan institusi di Indonesia. Bahwa kita harus kembali ke Indonesia setelah waktu yang ditentukan.

9. Kalau ditanya mengenai kita berangkat sama siapa, bilang bahwa kita berangkat bareng teman-teman lainnya ke USA. Jangan bilang kita sendiri. Meningkatkan kecurigaan bahwa kita calon imigran gelap baru.

10. Bikin list daftar kemungkinan pertanyaan, lalu kita bikin jawabannya yang panjang-panjang. Minimal 2 paragraf tiap pertanyaanlah. Lalu kita latihan di depan kaca terus menerus sampai kita lancar sebelum interview sesungguhnya. Tak mau kehilangan 2 juta lagi, kan? Dan kesempatan jalan-jalan ke USA?

11. Banyak-banyak berdoa. Sungguh, setengahnya adalah faktor keberuntungan.




Tambahan juga: 


   Bebeberapa bulan belakangan saya banyak mendapat whatsapp, email dan telepon mengenai visa Amerika. Beberapa dari mereka banyak yang minder karena saya mendapat surat sekretaris negara dan sekretaris Pak Jusuf Kalla. Oh believe me, para bule bahkan tidak menanyakannya dan aku tidak menjelaskannya saat wawancara keduaku (lihat teks wawancara di atas). Aku juga memperlihatkan semua dokumen di depan kaca, tapi si bule bahkan tidak menanyakan kertas surat wakil presiden itu.


Believe me, dari manapun suratnya yang penting adalah menunjukkan bahwa kita harus kembali ke Indonesia, semua yang menunjukkan kita punya ikatan kuat dengan Indonesia. Bisa minta surat kampus, perusahaan, kantor, dinas setempat, slip gaji, apapun itu. Tekankan itu saat pengisian kolom bebas di aplikasi kedua dan saat wawancara.


Kemarin di antara yang juga sempat curhat denganku adalah Mbak Lukvi yang ada rapat di SanFransisco dan juga Mbak Eka yang ada penayangan film Indie di New York dimana Mbak Eka sebagai tokoh utamanya. Persamaan dari keduanya adalah mereka apply visa USA lagi segera setelah ditolak. Mbak Lukvi 2 minggu kemudian harus berangkat, Mbak Eka malah seminggu lagi harus berangkat. Alhamdulillah, keduanya visanya diterima untuk wawancara kedua meski pengajuan ulang dalam rentang singkat.


Terus saranku di tengah urgensitas ini: a. ke konsulat visa di Surabaya (katanya bulenya lebih ramah) meski saya sih tetap di Jakarta dan berhasil juga, b. persiapan wawancara dengan list kemungkinan pertanyaan dan jawabannya, c. semua dokumen yang mengikat dengan Indonesia, d. tidak menjawab singkat dan melakukan wawancara panjang lebar dan hanya berhenti kalau disuruh, e. dokumen diperlihatkan di depan kaca si bule meski gak ditanya, dan f. banyak berdoa. 


Tidak ada rentang waktu untuk pengajuan aplikasi visa kedua, kalian bisa ajukan kapanpun tapi perlu direnungkan kenapa alasan visa pertama ditolak dan apakah keberangkatan ke USA sangat urgen dalam urusan bisnis misalnya.






Buat yang mau konsultasi bisa hubungi email saya ------@gmail.com atau jika mendesak bisa hubungi whatsapp ------- (wa aja ya, free koq tanya-tanya minta pendapat pribadi dan pengalaman orang-orang yang curhat ke saya. Hehe. Untuk yang lebih profesional, bisa mengontak agen visa saja.) dan bisa langsung ceritakan saja kronologi mengapa visanya ditolak. Siapa tahu saya bisa bantu :D

Edited: Karena sehari saya bisa mendapat 4-7 whatsapp dan telpon mengenai visa yang ditolak. Satu penanya rata-rata 1-2 jam telpon. Saya sementara tidak menerima lagi curhat visa ya. Mohon yang punya catatan nomor saya untuk tidak mengontak saya. Jika ingin travelling, silakan tunggu saja sampai donald trump lengser :D

You might also like:

[Cerbung Fiksi Ilmiah] Indonesia Terakhir Part 1
Download TOEFL Soal dan Pembahasan PDF
14 Cara Menjadi Pembicara Forum Internasional
Hari Pertama Menginjakkan Kaki di Negeri Paman Sam 
Hanya Minum Air Putih Selama 30 Hari, Inilah yang Terjadi...
Pidatoku di Negerinya Atap Dunia
Diskusi Saya Bersama Jurnalis Amerika Serikat
Pengalaman Merit 360 dan Unjuk Ide di PBB




Reaksi:
Comments
16 Comments

16 komentar:

  1. Halo Maryam, Salam kenal, visa saya juga baru saja ditolak. huhuhuhuh. Saya ada email ke satohiroshi87@gmail.com, semoga berkenan untuk membalas :) Thank you

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haiii Yang mau coba apply visa amerika lagi buat 2018 apalagi cowok tolong hub saya by email yaaa yemiisc@gmail.com saya jg mau coba apply biar ada tmn hehehe

      Hapus
  2. Silakan hubungi whatsapp saya di 081222333330

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang mau coba apply visa amerika lagi apalagi cowok tolong hub saya by email yaaa yemiisc@gmail.com saya jg mau coba apply biar ada tmn hehehe

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  4. Hai maryam. 2 minggu lagi saya mau apply visa ke sana. Deg2an di tolak nih karena saya masih mahasiswa dan semua cost dan rekening yg saya lampirkan atas nama orang tua ku. Dengar2 mereka agak anti sama yang berkaitan sama islam & saya kuliah di universitas muhammadiyah. Kira2 bakal ngaruh ga ya???

    BalasHapus
  5. Hai maryam. 2 minggu lagi saya mau apply visa ke sana. Deg2an di tolak nih karena saya masih mahasiswa dan semua cost dan rekening yg saya lampirkan atas nama orang tua ku. Dengar2 mereka agak anti sama yang berkaitan sama islam & saya kuliah di universitas muhammadiyah. Kira2 bakal ngaruh ga ya???

    BalasHapus
  6. Hi, tulisan kamu sangat menginspirasi :) Kalau boleh tau berapa lama waktu yang diperlukan dari sejak visa disetujui sampai keluar visanya ya? Thank you.

    BalasHapus
  7. wahh, bagus sekali pengalaman mohon visa US embassy., ;p

    BalasHapus
  8. Artikel pengalaman yang sangat bermanfaat, Thanks.
    bagi rekan-rekan yang ingin informasi seputar Visa Amerika kunjungi Blog

    www.usvisaconsultan.blogspot.com

    BalasHapus
  9. Yang mau coba apply visa amerika lagi apalagi cowok tolong hub saya by email yaaa yemiisc@gmail.com saya jg mau coba apply biar ada tmn hehehe

    BalasHapus
  10. Hari ini visa saya ditolak..padahal semua dokumen lengkap, rekening mendekati 100 juta. Ada SIUP, NPWP, dan saya sertakan juga visa amerika anak saya yg sdh didapat thn 2017 saat dia mengikuti lomba di washington DC. 20.thn lalu saya sempat tinggal di Ethiopia selam 4 bulan bersama ayah anak saya. Mba bulenya tanpa lihat dokumen2 lagi, langsung saja menyodorkan kertas PINK. asumsi saya, dia berpikir saya ga akan balik lagi ke indonesia. Padahal, saya punya usaha dan sdh berkeluarga lagi dengan 2 orang anak. So,apa sarannya mba? Nyesek jg kehilangan 2.5 juta. Makasih inputnya.

    BalasHapus
  11. @Emilia, tujuan mbak ke Amerika apa, mbak? Juga bagaimana dengan pekerjaan mbak di Indonesia?
    Mungkin biar lebih mudah bisa hubungi saya di email qonitamaryam@gmail.com atau whatsapp 081222333330

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tujuan saya ke amerika adalah utk lihat2 keadaan sambil jalan2 bersama anak. Karena dia sedang mengajukan beasiswa utk lanjutkan kuliah disana. Intinya, mau jalan2 saja.

      Hapus
  12. Iya mbak, kalau tujuannya hanya untuk itu memang rentang sekali ditolak. Kalau mbak ingin mengajukan lagi, sebaiknya ada alasan yang lain.

    BalasHapus

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...