Jumat, 08 April 2016

Hati Yang Hancur Bertanya Pada Otak

Teringat dalam mata kuliah Psikologi Konseling, bahwa mengapa afeksi, kognitif dan perilaku menjadi sasaran dalam Konseling Psikologis adalah karena sering kali terdapat ketimpangan antara ketiganya. Satu pemikiran tentang hal itu, dalam sebuah percakapan sederhana.





Hati yang hancur bertanya kepada otak:
“Mengapa kau tidak memberitahuku bahwa hidup itu tidak adil?”
“Mengapa kau tidak memberitahuku bahwa cinta akan sangat menyakitkan?”
“Mengapa kau tidak memberitahuku bahwa aku telah salah selama ini?”
"Mengapa kau tidak menyuruhku berhenti berharap sejak awal?"
"Mengapa kau tidak memperingatiku adanya ancaman?"
“Mengapa kau tidak menahanku untuk bertindak bodoh saat itu?”
“Mengapa kau tidak menghentikanku?”
"Mengapa kau tidak melakukannya?"
“Mengapa?”

Otak pun menjawab dengan lemah,
“Aku sudah melakukannya..., 
aku sudah melakukannya…”

Reaksi:
Comments
2 Comments

2 komentar:

  1. Jika dari awal sudah tahu endingnya, kita tidak akan bisa belajar dari prosesnya ya :)

    Salam kenal Mba Maryam :)

    BalasHapus
  2. Biarkan saja hati dan otak bersekutu,hehehe

    BalasHapus

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...