Kamis, 09 Agustus 2012

Hikmah Makanan Tentang Cinta


“Bujang, apa kau pernah memakan makanan yang sangat enak?” tanya Hamzah tiba-tiba.
“Aku ingat-ingat dulu. Oya, pernah. Nasih kebuli,” jawab Bujang ceria.
“Ketika kau sedang berhadapan dengan nasi kebuli itu, apa kau yakin nasi itu rezekimu?”
“Ya.”
“ketika kau mulai makan, apa kau makin yakin nasi yang kau masukkan ke dalam mulutmu itu rezekimu?”
“Tentu saja.”
“ketika kau selesai makan, apa kau sudah sangat yakin bahwa nasi di dalam perutm itu rezekimu?”
“Pasti itu.”
“Bagaimana jika kemudian perutmu mual lalu kau memuntahkan nasi kebuli yang sudah bersanding dengan isi perutmu?”
“Berarti hanya sebatas itulah rezekiku, Hamzah.”
“Bujang, kau harus dapat membedakna mana rezeki untuk matamu, mana rezeki  untuk mulutmu, dan mana rezeki untuk perutmu.”  Ingat Hamzah.
“Apa maksudmu?”
“Maksudku, rezeki untuk mata belum tentu akan menjadi rezeki untuk mulutmu. Rezeki untuk mulut belum tentu akan menjadi rezeki untuk perutmu. Rezeki untuk perutmu belum tentu akan akan menjadi rezeki untuk pertumbuhan tubuhmu. Hanya rezeki yang berkah saja yang dapat brmanfaat bagi kita, baik sedikit maupun banyak,” papar Hamzah alias Syaikh Cinta.
***
Sobat, camkanlah kata-kata terakhir Hamzah sang Syaikh Cinta di atas bahwa rezeki untuk mata belum tentu akan menjadi rezeki untuk mulutmu. Rezeki untuk mulutmu belum tentu akan menjadi rezeki untuk perutmu. Rezeki untuk perutmu belum tentu akan akan menjadi rezeki untuk pertumbuhan tubuhm. Hanya rezeki yang berkah saja yang dapat bermanfaat bagi kita. Baik kita suka atas rezeki itu maupun tidak.

Sobat, percayalah bahwa hal seperti ini juga bisa terjadi dalam masalah cinta. Kamu mungkin pernah bertemu dengan seorang wanit anggun dan tanpa sengaja kamu menatap matanya dan ia mentap matamu. Kemudaian dari salig mentap sesaat itu kalian saling tersenyum dan bergumam, “So sweet.” Beberapa hari kemudian kamu masih ingat tatapan matanya dan hatimu meyakini kalau kamu sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Setelah itu kamu meyakini bahwa pertemuan pertama itu adalah pertanda bahwa wanita itu adalah jodohmu.

Ketika Alllah kembali mempertemukan dengan wanita itu, maka keyakinan bahwa wanita itu jodohmus emakin kuat. Kamu semakin mencintainya lalu kamu minta bantuan murabbimu untuk mengatur proses ta’aruf atau pengealan lebih lanjut. Dan proses ini kamu dan wnita itu bisa saling mengenal diri dan keluarga masing-masing. Ternyata Allah memudahkan proses ta’aruf ini, sehingga hati kamu semakin yakin lagi bahwa wanita itu benar-benar jodohmu.

Pada akhirnya kalian pun menikah dan hidup sebagai suami istri. Pada awal-awal pernikahan jiwamu benar-bear sangat meyakini bahwa wanita yang sudah menjadi istrimua itu adalah benar-benar jdohmu. Jodoh yang diturunkan Tuhan dari langit. Jodoh yang telahd itakdirkan untukmu di dunia dan akhirat.
Akan tetapi, aapa yang terjadi setelah sepuluh tahun kamu hidup berasam wanita yang kamu anggap sebagai jodohmu itu? Rasa cinta di hatimu pun memudar, apalagi saat istrimu tidak cantik dan langsing lagi seperti dulu. Kalian selalu bertengkar dan saling curiga. Tidak ada rasa saling per caya diri yang pada akhirnya kalin pun... bercerai.

Sobat, ke mana keyakinan matamu bahwa wanita yang membuatmu jatuh cinta pada pandangan pertama itu adalah jodohmu? Kemana keyakinan hatimu bahwa wanita yang dimudahkan proses ta’arufnya denganmu itu adalah jodohmu? Kemana keyakinann jiwamu bahwa wanita yang telah menjadi istrimu adalah jodohmu yang diturunkan Tuhan dari langit?

Mengapa wanita yang selama ini kita yakini sebagai jodoh untuk mata, hati, dan jiwa kita pada akhirnya berpisah dari kita? Karena pada hakikatnya jodoh untuk matamu belum tentu akan menjadi jodoh untuk hatimu. Jodoh untuk hatimu belum tnetu akan menjadi jodoh untuk jiwamu. Jodoh untuk jiwamu pun belum tentu akan mendatangkan kebahagiaan untukmu. Hanya jodoh yang berkah saja yang dapat mendatangkan kebahagiaan, baik kita mencitnainya maupun tidak mencintainay.

Sobat, kita harus dapat membedakan mana wanita yang kita cintai, mana wanita ynag menjadi istri kita, dan mana wanita yang menjadi jodoh kita. Wanita yang kita cintaikbelum tentu akan menjadi istri kita. Wanit yang menjadi istri kita belum tentu akan menjadi jodoh kita. Bahkan, wanita yang menjadi jodoh kita belum tentu adalah wanita yang sangat kita.......... cintai.

Disadur dari buku “Penyakit Cinta”

Reaksi:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...