Sabtu, 23 Juni 2012

Indonesia Terakhir Part IV




Suara itu menggema dalam rongga jiwa. Ayah menyebut nama asliku di depan elit pemerintah itu padahal dia sendiri berpesan agar aku tidak membocorkan identitasku pada siapapun. Tapi ada yang lebih tidak kupahami, kedua orang tuaku meninggal demi sebuah agama asing bernama Islam? Kenapa ayah tak pernah memberi tahuku selama ini?

Aku terkesiap, teringat kalau Fathir dan teman-temannya akan dibekukan dengan nitrogen cair. Hukuman paling ditakuti setelah neraka virtual. Aku pun bergegas bangkit dan berlari kembali ke toko tele-scouter untuk memberi tahu mereka sebelum terlambat.

Raungan suara sirine terdengar menyusul di belakangku. Para biobot melesat menuju toko tele-scouter itu menggunakan SkyBike. Semacam kendaraan terbang untuk patroli. Salah satu biobot itu mendelikkan matanya, ia sadar kalau aku adalah anak Presiden Gomera. Aku langsung menyusup ke dalam gang kecil  yang dihimpit dua gedung. Berlari di antara celah-celah sempit berharap menemukan jalan keluar.

Aku terjebak! Dalam lorong sempit yang hanya berujung tembok tinggi menjulang. Tak pikir panjang, aku masuk ke dalam kotak sampah besar di dekat situ yang isinya adalah besi-besi berkarat.

Ada lubang kecil di kotak sampah besar itu. Jadi aku bisa mengintip apakah di luar sudah aman atau belum. Sesuatu menepuk pundakku dari belakang membuatku tersentak. Hff… ternyata cuma robot rusak dengan tangan kiri putus dan kabel-kabel mencuat dari tubuhnya. Aku rasa robot ini sudah lama berada di tempat sampah. Ia lalu menjulurkan tangannya yang mulai berkarat tersebut. “Nooie,” katanya.

“Lintang.” Aku menjabat tangan besi itu.

 “Kenapa kau bisa di sini?”

“Aku harus ke Gomera tapi para biobot itu akan menangkapku.”

Nooie mengobrak-abrik tumpukan besi itu, seakan mencari sesuatu. Lalu ia mendapati semacam senter dan memukul-mukulnya. Sementara aku sibuk melihat keluar, menunggu agar aku bisa keluar secepatnya. Tiba-tiba... Aku tiba pada titik yang tidak kupahami maknanya. Kutemukan diriku dalam sebuah keterasingan, seakan keluar dari dimensi ruang dan waktu.

Bles!

Aku terjatuh di tempat yang berbeda. Seluruh tubuhku seakan-akan baru saja dihancurkan. Rasa sakit luar biasa menyergap dada, membuatku tak bisa bernapas. Tanganku memerah memegang aspal mendidih di bawah beringasnya terik matahari. Mataku mengerjap, pandanganku buyar, satu-satunya yang kutahu kini aku berada di antara tapak-tapak kaki yang bergedebukan menghantam jalan. Sebelum akhirnya semuanya menjadi gelap.

Sayup-sayup mataku terbuka. Perlahan semuanya menjadi jelas dan kutemukan tubuhku tergolek di atas sofa. Professor Lincoln berdiri tidak jauh sedang memperbaiki Nooie.

“Kau sudah bangun?” tanya pria paruh baya itu.

“Apa yang terjadi?”

“Teleportasi. Robot ini menggunakan transmitter rusak untuk mengirimmu ke Gomera. Bersyukurlah karena transmitter rusak itu masih bisa menyusun atom-atom tubuhmu dengan benar.”

Aku melihat Nooie dan tersenyum. Entah harus berterimakasih atau tidak, dia memang sudah menolongku lolos dari Biobot. Tapi dia menggunakan transmitter rusak untuk teleportasi. Kalau sampai ada satu atom saja dalam tubuh ini bergeser satu milimeter, aku pasti akan mengalami cacat fisiologis selamanya.

 “Radionya!” aku terpekik.

“Benda itu?” Professor Lincoln menunjuk radio di atas meja dengan wajahnya. Aku mendesah lega.

“Ada yang harus segera kusiarkan! Professor, bukankah kau bisa membobol jaringan komunikasi?”

“Ya, ada apa?”

“Aku ingin menyiarkan kepada Gomera tentang Islam. Sebuah agama yang bagaimanapun dulu pernah ada dan masih ada hingga sekarang. Dengan begitu, aku bisa menolong GenQ dengan membuktikan kalau mereka tidak bersalah. Mereka hanya ingin memberi tahu kebenaran.”

“Lintang, jangan menjebak dirimu. Dunia tidak akan berubah hanya karena keinginanmu sendiri,” nasihat Professor Lincoln. Aku tahu dia memang sangat menyayangiku, tapi apa aku harus diam saja sementara sekarang GenQ dalam bahaya?

“Sendiri? Setidaknya jika orang tuaku masih hidup, mereka akan mendukungku. Aku tidak sendiri.”

Professor Lincoln diam sejenak melihatku seraya menghela napas. “Akhirnya kau sudah tahu.”

Pria paruh baya itu menyalakan komputernya. Jari-jemarinya menari di atas keyboard dan kode-kode rumit bermunculan di layar. Entah apa maksudnya. Ia lalu menekan tombol enter.

“Bingo. Ini adalah jantung operasional penyiarannya, kau bisa menyiarkannya sekarang.”

Bersambung.

Next

Reaksi:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...