Sabtu, 23 Juni 2012

Indonesia Terakhir part II


           Aku melongo, tidak percaya ayah akan membawaku ke Indonesia. Selama beberapa tahun aku tinggal di Gomera, aku yakin tidak ada lagi tempat manusia bisa  bertahan hidup selain di Gomera. Lalu, apa maksud ayah adalah samudera tak berpenghuni yang dulunya adalah Indonesia?

            “Apa maksud ayah tentang Indonesia yang ayah bilang?”

            “Bagaimana kalau kau melihatnya sendiri?”

            “Baiklah, aku ikut ayah saja,” jawabku setengah hati. Sebenarnya aku sangat keberatan meninggalkan pelajaran Geografi hari ini, tapi ketika melihat ayah, dia hampir tidak punya waktu. Kulihat ayah tersenyum kemenangan, dia tidak lagi mengatakan apapun. Walau aku masih penasaran, tapi aku rasa dia tidak akan menjawabnya. Mobil itu lalu membawa kami ke stasiun lintas dunia milik negara.

            Pesawat yang kunaiki kali ini melaju dengan kecepatan Mach-10. Sehingga perjalanan dari Gomera ke Indonesia hanya membutuhkan satu jam. Kutumpahkan pandanganku ke luar jendela, disini dulu Indonesia berada, tapi sekarang menjelma menjadi jutaan kubik air dan gulungan-gulungan ombak saja sejauh mata memandang.

            Tiba-tiba, pesawat memasuki zona lain. Sebuah terowongan sepanjang 1 mil yang tiba-tiba saja muncul di atas permukaan samudera. Tidak lama, pesawat pun berhenti di sebuah tempat yang aku rasa bukan berada di abad yang sama. Ayah menggandeng tanganku keluar dari pesawat saat pintu pesawat terbuka. Aku langsung memejamkan mata. Bukankah matahari sekarang bisa membuat mata menjadi buta? Mengapa ayah…?

            “Buka saja matamu,” kata Ayah. Aku mengerjap dan kurasakan mataku baik-baik saja. Aku juga tidak perlu memakai pakaian khusus anti ultraviolet. Dia masih menggandeng tanganku dan berjalan keluar. Puluhan pria berkulit sawo matang berjejer di depan pesawat.

            “Selamat datang di Indonesia, Presiden Horace!” ujar salah seorang dari mereka. Aku terkejut. Senang, bingung, dan tidak percaya bercampur aduk. Apa mereka orang Indonesia? Apa di sini Indonesia?

            “Apa ini benar-benar…?” tanyaku tercekat.

            “Iya. Kampung halamanmu,” katanya. Kukucek mataku berkali-kali dan aku masih tidak percaya dengan pemandangan ini. Aku tidak sedang bermimpi, kan?

            “Ada kubah dari metamaterial yang membuat gelombang elektromagnetik dibelokkan. Sehingga Indonesia menjadi tak terlihat bahkan tak terlacak radar. Begitu pula cahaya matahari yang pada dasarnya adalah gelombang elektromagnetik. Sementara sumber energi terbesar didapat dari energi fusi nuklir.”

            “Tapi kenapa mereka bilang Indonesia tenggelam?”

            “Itu karena rekayasa genetika impian manusia yang hampir membuat orang Indonesia musnah. Indonesia harus disembunyikan.”

            “Mereka menginginkan gen orang Indonesia?”

            “Ya, makanya selain Professor Lincoln, kau jangan memberitahu siapapun kalau kau orang Indonesia. Paham?” tanya Ayah. Aku mengangguk.

            Sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan kami. Mobil tersebut masih memakai roda, tidak secanggih di Gomera. Aku dan ayah masuk setelah seorang pria membuka pintu mobil. Di dalamnya, manusia lah yang menjadi supir. Bukan robot.

            Aku melongok ke luar jendela saat mobil melewati sebuah gerbang besar yang terbuat dari karbon nanotube. Yaitu material yang sangat kuat tapi sangat ringan. Di balik gerbang itu dapat kulihat pohon-pohon berjejer, kepakan lembut sayap kupu-kupu, dan semilir angin yang merayu bunga-bunga yang tersenyum merekah. Laksana goresan sebuah lukisan yang sangat indah. Masih kunikmati pemandangan itu sampai akhirnya mobil ini berhenti di depan sebuah bangunan tinggi. Aku dan Ayah keluar dan disambut para pria berkulit sawo matang.

            Tunggu, aku baru sadar kalau wajah para pria berkulit sawo matang itu mirip satu sama lain. Bahkan ekspresi wajah mereka sama: datar. Jika kau ingin lebih dramatis lagi, mereka seperti... mati.

            Seorang pria berkepala besar dengan rambut beruban muncul dari dalam bangunan itu. Dia menyambut Ayah dengan jabat tangan.

            “Welcome in Indonesia, Mr. President!” sambut orang itu dengan senyuman. Dia adalah orang pertama yang kulihat berbeda. Dia pasti orang khusus.

            “Dia adalah Danny, anak tunggalku.”Ayah menepuk pundakku.

            “Hai Danny, salam kenal. Kau bisa panggil saya Professor Surya.” Pria itu tersenyum dan kami berjabat tangan.

Professor Surya lalu mengajak ayah masuk ke dalam tempat itu. Para pria berkulit sawo matang melihatku dengan tajam, membuatku tak betah lama-lama berdiri disini sendiri. Aku lalu memilih ikut ayah masuk sebelum akhirnya seseorang menepuk pundakku dari belakang.

“Kau ikut aku saja!” kata seorang anak remaja laki-laki berperawakan tinggi. Rambutnya hitam dan kulitnya lebih putih dibanding para pria misterius itu. Dia adalah orang kedua yang kutemukan berbeda. Usianya mungkin 16 sampai 17 tahun.

“Tapi...,” kataku bingung melihat Ayah masuk.

“Apa kau mau menghabiskan waktu dengan rapat yang membosankan?” tanyanya.

“Kau mau bawa aku kemana?”

“Yang pasti kamu tidak menyesal kubawa ke sana,” kata orang itu sambil menaiki sepedanya. “Ayo naik!”

Orang itu pun memboncengku. Sementara aku hanyut menyaksikan alam hijau yang telah bertahun-tahun tidak lagi kunikmati. Kubiarkan desau angin sejuk membelai tubuhku sampai akhirnya...

“Seperti asli tapi semua itu tumbuhan palsu. Professor Surya memang sangat hebat,” kata anak remaja itu. “Tadi kau bilang namamu Danny, kan? Kenalkan namaku Fathir.”

“Palsu?” tanyaku dengan nada tercekat. Memang, semenjak pemanasan global dan sejak radiasi nuklir bekas perang dunia, lahan rusak dan tumbuhan tidak pernah tumbuhan lagi. Aku sudah tahu jawabannya, jadi aku lontarkan pertanyaan lain. “Fathir, orang-orang itu mereka mirip. Kau tahu kenapa?”

“Biobot,” kata Fathir.

“Hah?”

“Penyatuan antara biologi manusia dengan robot. Mereka adalah biologi manusia dengan komputer kuantum di otaknya dan melakukan pekerjaan dengan sempurna. Hasil singularitas. Sayangnya mereka sudah mati alias...”

“Ma-yat?” aku melanjutkan dengan merinding.

“Ya, kau benar. Wajah mereka mirip karena wajah asli mereka sudah hancur bekas percobaan rekayasa genetika dua tahun yang lalu.”

Fathir menepikan sepedanya di depan sebuah toko tele scouter yang sudah tutup. Tulisan ’closed’ yang terpajang di pintu kaca toko itu tampak mulai usang. Aku mengikuti Fathir masuk ke toko sepi tersebut, aneh, tapi aku memutuskan untuk tidak banyak bertanya, karena sepertinya aku akan tahu sendiri.

“Use it!” Fathir memberiku sebuah tele scouter, semacam kacamata yang dapat menerjemahkan ucapan orang lain. “Mereka akan berbicara dalam bahasa Indonesia, kau butuh benda ini.”

“Mereka?”

Fathir hanya menjawab dengan tersenyum sombong, dia lalu berjalan menuju sebuah pintu hijau di ujung ruangan. Aku mengikutinya sambil memakai kacamata itu, walau sebenarnya aku tidak butuh. Sebuah sinar memancar, memindai pupil mata Fathir. Tidak lama kemudian, pintu itu terbuka dan di dalamnya hanyalah sebuah ruangan sempit yang muat untuk dua orang.

“Di Gomera sepertinya canggih sekali, ya?” tanya Fathir masuk ke dalam ruang sempit itu.

“Ya, sangat. Kecuali makanannya yang mirip cairan hidung,” jawabku ikut masuk ke dalam ruangan itu. Pintu ruangan itu tertutup dan membuat sesak.

“Kau akan melihat yang jauh lebih canggih lagi!” ujar Fathir bangga. Sedetik kemudian, ruangan itu meluncur ke bawah dengan super cepat. Membuatku seperti ingin muntah. Ternyata ruangan ini adalah lift.

Pintu lift terbuka, cahaya putih yang sangat terang jatuh di pelupuk mata. Silau. Tak lama, mataku mulai terbiasa dengan penerangan yang entah dari mana sumbernya. Tidak ada jendela dan tidak ada lampu. Sampai akhirnya aku sadar, penerangan berasal dari bawah: lantai.

Cuma ada satu pintu, yaitu di ujung ruangan. Fathir membuka pintu yang terbuat dari karbon nanotube itu. Teknologi nano memang sedang populer belakangan ini. Di balik pintu itu ada sekumpulan anak muda yang masing-masing sibuk dengan urusannya. Ada yang di depan komputer, ada yang sibuk dengan larutan kimia, ada pula yang sibuk merangkai sesuatu. Well, Fathir telah membawaku ke abad yang lain lagi aku rasa.

“Assalamu’alaikum!” Fathir berseru. Semua mata pun mengarah pada kami berdua.

“Walaikum’salam. Dia siapa, Fathir?” tanya seorang laki-laki menunjukku.

“Namanya Danny, dia anak Presiden Gomera.”

“Hai Danny, apa kau tahu bahwa Fathir juga adalah anak presiden sama sepertimu?” tanya laki-laki itu. Aku terkejut dan menggeleng, dari penampilannya tidak bisa ditebak kalau dia adalah anak presiden.

“Ah, sudahlah! Itu tidak penting.” Fathir sepertinya memang tidak ingin membahas itu. Aku pun memulai mengganti topik pembicaraan.

“Jadi, ’mereka’ yang kau bilang tadi adalah mereka?”

”Ya. Tapi lain kali kau menyebut ’mereka’ Gen-Q atau Generasi Qur’ani. Nama yang bagus, kan?” tanya Fathir tersenyum makin  lebar.

Reaksi:
Comments
1 Comments

1 komentar:

Jangan jadi silent reader, giliranmu bercuap-cuap ria.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...